BeritaPondok PesantrenTokoh

Hasil RKMI, Pimpinan TQN Ponpes Al-Mubarok Banten Menjadi Raja Sumedang Penerus Padjadjaran

0

Berdasarkn persetujuan rukun wargi sumedang (RWS) dan Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) menggelar Rapat Khusus Musyawarah Istimewa (RKMI), rapat khusus seluruh anggota dan Majelis Tinggi Sumedang Larang (MTKSL) serta Pelantikan dan penobatan seorang Ratu atau Papayung wargi sumedang atau Raja adat budaya kerajaan sumedang larang penerus pajajaran di gedung negara Kantor Bupati Sumedang, Minggu (25/8/2019).

Diketahui hasil dari RKMI tersebut Pimpinan TQN Ponpes Al-Mubarok Banten KH. Raden Muhammad Yusuf. P. Kartakoesoema di lantik menjadi Raja Sumedang Larang penerus Pajajaran.

Ketua panitia RKMI H.R. Koenraad Soeriapoetra menjelaskan secara umum, RWS dan YPS mempunyai dan memiliki karakter dan kemampuan mempertahankan diri dari Globalisasi Jaman dan perkembangannya di masyarakat yang merupakan bagian dari adat istiadat Sunda yang memiliki kekhasan dan kemandirian pada saat ini.

“Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam salah satu prinsif tradisional “Najan nepi ka mupak alam dunya, adat mah teu wasa dirobah, lojor teu meunang dipotong, pandak (pondok) teu meunang disambung, sajadina bae” artinya Walau hingga alam dunia hancur, adat tak kuasa diubah, panjang tak boleh dipotong, pendek pun tak boleh di sambung,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan Prinsif atau pandangan hidup itu tidak luput dari kehidupan masyarakat Sunda. Prinsif ini bermaksud baik dalam hubungan antar RWS dan YPS dan memang seyogianya seluruh masyarakat di Indonesia memegang teguh Prinsif ini.

“tujuan dari RKMI ini adalah dalam rangka memperkenalkan warisan budaya prinsif Sunda kepada seluruh turunan Leluhur Kerajaan Sumedang Larang dan generasi muda yang ada tidak lupa dan tidak kehilangan akar budaya tentang Prinsifnya,” ungkapnya.

Disadari atau tidak menurutnya Budaya Prinsif Sunda yang hidup dan berkembang di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten merupakan aset yang besar dan penting untuk segera di identifikasi dan dijaga sebagai identitas untuk dikembangkan dengan menyertakan langkah-langkah pembentukan simbol symbol lembaga.

“Dalam pengertian umum, Budaya Prinsif di masyarakat Sunda adalah suatu konsep yang masih belum final makna dan batasannya. Konsep ini sering digunakan untuk menunjukkan suatu komunitas masyarakat atau golongan yang mejaga atau merawat Budaya Konsef dan Adat Istiadat serta Peningalan para leluhurnya diseluruh pelosok Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten,” paparnya.

Harapan Raja Sumedang Larang

Sementara itu, KH. Raden Muhammad Yusuf. P. Kartakoesoema salah satu keturunan Raja Sumedang dan juga pimpinan Ponpes TQN Al-Mubarok Cinangka Banten yang telah di lantik pada (25/8) menjadi Raja Sumedang berharap Pemerintah daerah Sumedang lebih meningkatkn perhatian terhadap seni budaya dan kearifan lokal Sumedang juga kemudian bersama-sama mensosialisasikan ke masyarakat luas tentang adat istiadat Sumedang.

“Berharap Pemda untuk merenovasi cagar budaya, makam-makam para raja dan bupati sumedang dan mengembalikn aset-aset wakaf kerajaan Sumedang kepada RWS dan YPS kemudian mensejahterakan seluruh keturunan para raja-raja dan bupati sumedang,” ungkap Raja Sumedang Larang

Ais Banten

Kalian Suci (Aku Penuh Dosya)

Previous article

Kemulian Bulan Muharam

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita

DTD Banser Pandeglang Diikuti 500 Pemuda Banten

Ratusan anggota Banser (Barisan Ansor Serbaguna) se Pandeglang mengikuti kegiatan Diklat Terpadu Dasar (DTD), Jumat hingga Ahad (06/08/19). DTD Angkatan VI ini dilaksanakan ...

Kemulian Bulan Muharam

Oleh : Mughni Labib, S. Hum (Kord. Div. Konten AIS Banten) Tidak terasa kini kita sudah berada di penghujung bulan tahun hijriyah. Tinggal ...

120 Gawagis Dan Nawaning Banten Ikuti PKPNU

120 Gawagis Dan Nawaning Banten Ikuti PKPNU Pada hari kemerdekaan republik Indonesia (17/8), Arus Informasi (AIS) Banten adakan Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama ...