BeritaTokoh

Para Pejuang Pahlawan Nasional dari Kalangan Ulama, Kiai, Santriwan & Santriwati dari kalangan Pesantren-Banten Versi AIS Banten

0
  1. Sultan Ageng Tirtayasa

Lahir di Banten pada tahun 1631, Sultan Ageng Tirtayasa adalah putra dari Sultan Abdul Ma’ali Ahmad dan Ratu Martakusuma, raja dan ratu Banten pada tahun 1640 – 1650. Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda dengan gelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Ia menjadi sultan setelah kakeknya meninggal dunia dengan gelas Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah, dan nama Sultan Ageng Tirtayasa didapat ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa yang terletak di Kabupaten Serang. Beliau terkenal dengan perlawanannya kepada Belanda karena monopoli perdagangan yang dilakukan VOC sehingga kesultanan dan rakyat Banten mengalami kerugian.

Selain itu ia juga sangat memperhatikan pendidikan, terutama pendidikan agama. Ia adalah pemimpin yang sangat amanah, memiliki pandangan ke masa depan, ahli perencanaan wilayah dan juga ahli tata kelola air, terbuka dan memiliki wawasan internasional. Sayangnya ia jatuh karena pertikaian kedua putranya yang diadu domba oleh Belanda, yaitu Sultan Haji dan Pangeran Purbaya. Belanda membantu Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa hingga tertangkap pada 1683 dan dipenjarakan di Batavia sampai meninggal disana dan dimakamkan di pemakaman raja – raja Banten, sebelah utara Masjid Agung Banten. Gelar pahlawan nasional diberikan pemerintah RI pada 1 Agustus 1970.

2. K.H Syekh Nawawi Al Bantani

Ia adalah seorang ulama yang lahir di Kampung Tanara, Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten pada tahun 1815. Beliau dikenal luas sebagai Imam Besar dari Masjidil Haram, Mekkah dan dikenal dengan julukan Sayyidul Hijaz atau Penjaga Hijaz, sebuah wilayah di Barat Arab Saudi yang mencakup dua kota suci yaitu Mekkah dan Madinah. Ia juga terkenal sebagai ulama besar yang memiliki banyak karya manuskrip yang disebarkan serta diterbitkan hingga ribuan kali tanpa royalti, dan wafat di Mekah pada 1879 kemudian dimakamkan disana. K.H Hasyim Asy’ari, Pendiri NU adalah salah satu muridnya.

3. Syekh Arsyad Thawil Al Bantani Al Jawi

Lahir pada tahun 1851 di Tanara, Kab. Serang, Banten dan meninggal pada 9 Maret 1934, ia adalah seorang ulama dan pejuang dari Cirebon yang ikut berjuang dalam Perang Cilegon sejak 9 Juli – 30 Juli 1888 bersama dengan Ki Wasyid, Tubagus Ismail dan para pejuang lain dari Banten. Ia adalah murid dari Syekh Nawawi Al Bantani. Ketahui juga beberapa nama pahlawan nasional dari jawa tengah, pahlawan nasional dari Bali, pahlawan nasional dari kalimantan dan pahlawan nasional dari Yogyakarta.

4. Brigjen K.H Syam’un

Ia adalah cucu dari K.H Wasyid, seorang patriot dari Banten. Dilahirkan di Kampung Beji, Bojonegara, Serang pada 5 April 1894, ia adalah komandan dari divisi batalion 99 tentara rakyat atau Pembela Tanah Air (PETA) yang menentang pemerintahan Hindia Belanda dan Jepang di Banten. Ia merupakan Residen Pertama Banten pada periode 1945 – 1949 dan seorang ulama pejuang yang kharismatik, pernah mendapatkan pendidikan di Universitas Al-Azhar Mesir. Setelah pendidikannya selesai, beliau mendirikan Perguruan Islam Al-Khaeriyah Citangkil di Cilegon, Banten. Beliau meninggal di Kamasan, Cinangka, Serang pada tanggal 28 Februari 1949. Ketahui juga mengenai pahlawan nasional dari sulawesi, pahlawan nasional dari sumatera utara dan pahlawan nasional dari Jawa Timur.

Masih banyak para pejuang lainnya yang belum dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah RI walaupun jasa – jasa mereka juga tidak kalah pentingnya. Berikut ini adalah nama – nama para pejuang yang belum digelari pahlawan nasional dari Banten.

5. Kiai Haji Wasyid

Lebih dikenal dengan nama Ki Wasyid, ia adalah seorang pejuang yang memimpin pada Perang Cilegon di tanggal 9 Juli 1888 sampai gugur pada 30 Juli 1888 di Banten. Ia adalah murid dari Nawawi Al Bantani dan Abdul Karim Al Bantani. Sebagai seorang pejuang, ia ahli dalam kemampuan strategis seperti melakukan komunikasi – komunikasi politik dengan para ulama serta pejuang lain di dalam dan luar daerah Banten untuk melawan penjajahan Belanda.

6. K.H Abdul Fatah Hasan

Ia adalah wakil Residen Serang yang memerintah bersama K.H Syam’un pada periode tahun 1945 – 1949. Selain seorang ulama murid utama Ki Syam’un lulusan Universitas Al Azhar Mesir dan Pesantren Khairiyah, ia adalah pejuang kemerdekaan RI dan juga anggota BPUPKI serta KNIP. Lahir pada tahun 1912 dan hilang pada 1949 setelah bergerilya dan Ki Syam’un ditahan oleh Belanda saat Agresi Militer Belanda II. Sejak itu ia tidak kembali, tidak diketahui apakah ikut tertangkap atau wafat.

7. Tubagus Ahmad Chatib Al Bantani

Juga dikenal dengan nama K.H. Tubagus Ahmad Chatib lahir di Pandeglang, Banten pada 1855 dan meninggal pada 19 Juni 1966 dan dimakamkan di kawasan Masjid Agung Banten. Ia adalah Residen Banten yang diangkat oleh Presiden Soekarno pada 19 September 1945. Selain itu ia juga pernah duduk di Dewan Pertimbangan Agung, DPR Gotong Royong (DPRGR), juga di MPRS dan BPPK. Ia juga merupakan pencetus berdirinya Majelis Ulama, Perusahaan Alim Ulama (PAU), juga perguruan tinggi Universitas Islam Maulana Yusuf yang kita kenal sekarang sebagai IAIN Sunan Gunung Jati, Banten.

8. Nyimas Gamparan

Ia terkenal dalam Perang Cikande yang terjadi antara tahun 1829 – 1830. Perang terjadi karena Nyimas Gamparan yang memimpin puluhan pendekar wanita menolak tanam paksa atau Cultuurstelsel yang diwajibkan Belanda untuk penduduk pribumi. Ia dan puluhan pejuang wanita bawahannya melakukan perang gerilya untuk melawan pasukan Belanda, dan memiliki markas persembunyian di wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Balaraja. Serangan – serangan yang dilakukan Nyimas Gamparan dan pasukannya sangat merepotkan Belanda.

9. Nyimas Melati

Ia adalah pahlawan wanita yang berjuang dalam sejarah perebutan kemerdekaan di wilayah Tangerang. Merupakan anak perempuan dari Raden Kabal yang mengikuti perjuagan ayahnya melawan Belanda. Namanya sekarang diabadikan sebagai nama sebuah gedung, yakni Gedung Wanita Nyimas Melati di Jalan Daan Mogot. Selain itu juga diabadikan sebagai nama sebuah jalan yang terdapat kantor KPUD Kota Tangerang. Nyimas Melati dan Nyimas Gamparan belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional wanita di Indonesia.

Inilah sekelumit para pahlawan nasional asli wong banten yang dapat kami kumpulkan,sebenarnya masih banyak para pejuang dari kalangan para ulama,kyai dan santri banten yang ikut memperjuangkan negara kesatuan indonesia. So,jika kita orang banten berjiwa santri jangan lupa untuk membela negri ini karena negri ini,tanah banten ini merupakan tanah perjuangan para kyai dan santri.

Untuk itu mari kita isi kemerdekaan indonesia khususnya wong banten yang berjiwa santri untuk ikut serta membela negri dengan mengaji,dengan menjadi agent perubahan yang berperadaban. Kami undur diri dengan ucapan salam :

“Berrsama Santri Unggul Indonesia Makmur”.

Ais Banten

Ponpes TQN Al Mubarok Cinangka Santuni 150 Anak Yatim

Previous article

Penanaman Nasionalisme dan Islam Moderat di Pondok Pesantren Salafiyah Banten

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita

Pesan KH. Lukman Hakim Untuk Santri Nusantara

Kementerian Agama menyelenggrakan acara ORKESTRA PERDAMAIAN dalam rangka menyambut Hari Santri 2019. 19/19. Dengan tema “Seribu Cahaya Santri untuk Perdamaian Dunia” Sebuah pagelaran ...

Tiga Karakter Ajaran Kiai Kepada Santri

Setiap generasi mememiliki tantangannya sendiri tak terkecuali generasi santri dulu tentu berbeda dengan generasi santri zaman milenial. Hari ini, sumber daya manusia yang ...

PWNU Banten Gelar Bathsul Masail II

Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Provinsi Banten, akan menyelenggarakan kegiatan Bahtsul Masail II di Pondok Pesantren Daarul Falah Ciloang Sumurpecung Kota ...