Pondok Pesantren

Penanaman Nasionalisme dan Islam Moderat di Pondok Pesantren Salafiyah Banten

0

oleh: Ferdiansyah Irawan, S.Ag M. Pd.

Akhir-akhir ini kembali muncul berbagam macam paham ekstrim yang mengusik khebinakaan masyarakat Indonesia. Sebenarnya mayoritas anak bangsa ini tetap memegang teguh Pancasila sebagai rumah bersama yang telah disepakati oleh founding father. Mereka yang belajar dan memperdalam ilmu Agama di Pesantren menjadi pilar-pilar tetap tegaknya Pancasila di Bumi Nusantara. Pesantren tetap setia mendalami keislaman dan memegang teguh rasa nasionalisme Pancasila. 

Aneka persoalan bangsa ini menjadi panggilan Pesantren untuk menyebarkan benih-benih perdamaian. Dengan cara pandang Santri dan Kiai, inilah salah satu cara untuk mewujudkan Indonesia damai dalam payung bersama Pancasila sebagai perwujudan islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Umat Islam Indonesia sedang menghadapi ujian berat atas rasa nasionalisme kebangsaannya. Hal ini berhubungan erat dengan maraknya berbagai tindakan terorisme yang dilakukan sebagian kelompok yang mengatasnamkan Islam. Sebagian orang juga masih ada yang mempertanyakan dalil nasionalisme, padahal nasionalisme dikeluarkan oleh Hadarotussyekh KH. Hasyim Asy’ari yang mengatakan hubbul wathon minal iman (cinta tanah air bagian dari pada iman). Perilaku teror, radikal dan anarkis yang ditampilkan oleh sebagian umat Islam menimbulkan pertanyaan serius mengenai tingkat rasa bangga umat Islam Indonesia terhadap bangsa dan negaranya. Padahal secara historis, tokoh-tokoh Islam masa lalu telah meletakkan dasar-dasar nasionalisme kebangsaan di bumi Nusantara ini dengan mendirikan beragam lembaga pendidikan Islam seperti pesantren dan madrasah.

Nasionalisme di Indonesia sebenarnya sudah tumbuh sejak Indonesia dijajah. Merasa senasib dalam menghadapi berbagai persoalan, menjadikan berbagai suku di Indonesia melakukan sebuah komunikasi, sehingga melahirkan sebuah pergerakan nasional. menurut Kiai Abdurrauf  Najih nasionalisme atau kebangsaan sama dengan istilah al-qaumiyyah dalam bahasa Arab mempunyai arti sebuah kondisi atau sikap yang di dalamnya terdapat kesepakatan bersama kelompok, suku atau komunitas apapun dalam sebuah wilayah tertentu. Kemudian Kiai Syarif  Djamhari menjelaskan bahwa nasionalisme adalah suatu paham yang menunjukan sebuah kecintaan kepada tanah kelahiran. Dalam khasanah kitab klasik istilah itu dikenal dengan  hubbul wathon minal iman.( Ali Maschan Moesa, Nasionalisme Kiai: Konstruksi Sosial Berbasis Agama)

Berdirinya NKRI tidak pernah terlepas dari rasa nasionalisme kecintaan terhadap tanah airnya sungguh sangat luar biasa dan peran ulama bukan hanya menghiasi semangat nasionalisme dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI saja tapi juga turut andil dalam melahirkan ideologi bangsa yakni pancasila. peristiwa 10 november dilatar belakangi oleh fatwa resolusi jihad 22 oktober 1945 yang dipelopori oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagai konteks rasa nasionalisme terhadap tanah airnya.

Habib Luthfi menjelaskan bahwa cinta tanah air sama dengan mencintai Nabi Muhammad SAW, dan kecintaan terhadap tanah air merupakan cerminan keimanan. Lebih lanjut cinta tanah air (hubbul wathon minal iman) Adalah berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa dan Negara dan rela berkorban demi NKRI.Sedangkan definisi lain ialah cinta tanah air adalah perasaan yang timbul dari dalam hati sanubari seorang warga Negara, untuk mengabdi, memelihara, melindungi tanah ainya dari segala ancaman dan gangguan, rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negaranya, mencintai adat dan budaya yang ada dinegaranya dengan melestarikannya dan melestarikan alam dan lingkungan. Dapat disimpulkan bahwa nasionaslime adalah mencintai negeri (tanah air) sesuai dengan perannya masing-masing.

Sebagaimana Imam Al Ashma’i menyatakan:

سمعت أعرابيا يقول: إذا أردت أن تعرف الرجل فانظر كيف تحننه إلى أوطانه، وتشوقه إلى إخوانه

“Aku mendengar seorang badui berkata: jika kau ingin mengenal (kepribadian) seseorang, maka lihatlah bagaimana simpatinya kepada tanah airnya, dan kerinduannya kepada sahabat-sahabatnya”. ( Syamsyuddin Al Sakhowi, Al Maqosid Al Hasanah, (Lebanon: Daarul Kutub, 1979),

Pondok Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama kepada para santrinya, karena pondok pesantren juga menanamkan nilai-nilai nasionalisme, kebangsaan dan kebhinekaan yang nantinya akan menjaga keutuhan NKRI. Penanaman nilai-nilai nasionalisme dan Islam moderat ini perlu dicontoh tidak hanya oleh segala kalangan masyarakat melainkan juga pemerintah. Yang dinyanyikan di samping Indonesia Raya, juga yang khas dari pondok yang maknanya sangat mendalam ketika kita bicara tentang kebangsaan, Penanaman nilai nasionalisme ini tidak hanya ditunjukkan pada perilaku dan perbuatan, namun juga pakaian yang dikenakan oleh para santri. Santri putri berkerudung merah-putih, sedangkan santri putranya memakai baju putih dan berdasi merah. Sikap nasionalisme yang ada di pondok pesantren, tidak hanya spontanitas. Penanaman nasionalisme melalui tradisi dan budaya sangatlah efektif, karena nilai kebudayaan menjadi kharismatik bangsa Indonesia untuk mencintai dan melestarikan kebudayaan bangsanya sendiri dan itu merupakan rasa kecintaan terhadap bangsanya.

Mereka mengonsep karena sejarah mencatat para Kiai, alim ulama, dan santri juga ikut membantu memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan. Saat ini pondok pesantren moderat Ath-Thohiriyah pelamunan juga terus berjuang untuk menjaga NKRI dengan menyebarkan ajaran Islam moderat sebagai pengejanwantahan Islam ahlusunnah wal jama’ah, dan penanaman nasionalisme yang memiliki toleransi tinggi terhadap seluruh umat beragama, kepada santri. Sehingga akan mampu merawat kebhinekaan dan menjauhkan diri dari radikalisme. KH. Thohir, Mengatakan bahwa “kalau tidak didukung oleh para Kiai saya pikir juga tidak cukup kuat kita untuk menjaga NKRI.”

Islam moderat dan nasionalisme sudah menjadi ruhnya pondok pesantren moderat Ath-thohiriyah sebagai salah satu akarnya Nahdlatul Ulama di Provinsi Banten, hal itulah yang kemudian dijelaskan oleh KH. Muhammad Thohir, selaku dewan pengurus pondok ia menjelaskan bahwasannya. Terdapat 3 bentuk cara dalam menanamkan nasionalisme kepada santri, melalui pembelajaran di kelas pengajian, melalui kegiatan pondok pesantren, dan melalui tradisi. Kaitanya dengan konteks sekarang penanaman nasionalisme dan Islam moderat di pondok pesantren moderat Ath-Thohiriyah Pelamunan.

Pondok Pesantren Salafiyah Moderat At-Thohiriyah Pelamunan merupakan salah satu pusat kajian Islam tertua di Banten. Karena, secara geneologi-historis, pondok ini dirintis oleh Al-Mukarrom KH.Muhammad Thohir sekitar tahun 1929 M. Sejak masa penjajahan hingga kini, pondok lebih memfokuskan diri pada pengajian Kitab Kuning, yang dinilai telah berhasil mencetak banyak alim-ulama dan cendikiawan Muslim di wilayah Banten

Setelah buya Thohir wafat, kemudian pesantren pelamunan terbagi menjadi beberapa nama pesantren yang dipimpin masing-masing oleh anaknya dan keturunannya. Pondok pesantren moderat Atthohiriyah Pelamunan sebelumnya bernama Daar El-Ma’had yang dipimpin langsung oleh KH. Ahmad Zaini Thohir pada tahun 1989, dan kemudian setelah KH. KH. Ahmad Zaini Thohir wafat pada tahun 2006 dikediamannya. Selajutnya atas kesepakatan dan musyawarah keluarga besar KH. Ahmad Zaini Thohir nama Da’ar Al-Ma’had diubah menjadi pondok pesantren  Atthohiriyah moderat Pelamunan yang dipimpin oleh KH. Ulfi Zaini Thohir sampai sekarang .

Salah satu kegiatan penanaman nasionalisme yang ada di pondok pesantren moderat Ath-Thohiriyah Pelamunan adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan sya’ir Ya Lal Wathan yang diciptakan oleh KH. Wahab Hasbullah, ketika upacara yang dilaksanakan 22 oktober. Sehingga santri dengan lagu perjuangan nasionalisme dalam mengusir penjajah khas Nahdlatul Ulama karangan mbah Wahab tersebut membangunkan kembali jiwa patriotisme santri.

Tradisi adalah adat kebiasaan turun temurun yang masih dijalankan dalam masyarakat. Tradisi sering dibahasakan dengan adat istiadat. Ada hal yang berkaitan erat dengan tradisi, pertama adalah karakter, kedua adalah kondisi geografis. (Ahmad Muhakamurrohman, Jurnal Pesantren: Santri, Kiai dan Tradisi, (Vol. 12, No. 2, Juli – Desember 2014), hal. 114-115).

Tradisi santri putri memakai kerudung merah dan putih, dan putra memakai songkok hitam di pondok pesantren moderat At-Thohiriyah Pelamunan saat upacara bendera merupakan karakter santri dalam mecintai tanah airnya.

Penanaman nilai-nilai nasionalisme dan Islam moderat dalam lingkup kehidupan sehari-hari di pondok pesantren moderat Ath-Thohiriyah Pelamunan pada dasarnya berkaitan erat dengan bentuk kegiatan yang ada di pondok.  Menurut Ahdori menyanyikan lagu Ya lal wathon ini sangat mempunyai makna yang sangat dalam, karena lagu ini mengajarkan kepada santri untuk mencintai tanah air. 

Peran Kiai NU dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan Islam moderat dalam lingkup kehidupan sehari-hari di pondok pesantren moderat Ath-Thohiriyah Pelamunan yakni Kiai Ulfi Zaini Thohir dalam menanamkan nasionalisme dan Islam moderat kepada santrinya peranannya sebagai pengajar dan memberikan keteladanan kepada santrinya.

Kiai Ulfi Zaini Thohir punya pandangan sendiri dalam nasionalisme, menurut beliau nasionalisme merupakan “cinta negara”. Setiap orang seharusnya mencintai Negara sebagai tempat tinggalnya. Seseorang yang lahir dan hidup disebuah Negara, ketika ia memiliki kecintaan terhadapnya sekaligus akan dibuktikan dengan perbuatan nyata maka ia telah memiliki rasa nasionalisme terhadap negaranya. Dalam hal ini sudah dibuktikan oleh Kiai Ulfi Zaini Thohir, bahwa beliau sangat nasionalis ia buktikan dengan cara mendidik dan menanamkan rasa nasionalisme terhadap santrinya dengan cara (1) pengajian kitab kuning, (2)  upacara bendera, (3) ro’an.  Kemudian Kiai Ulfi Zaini Thohir mempunyai metode dalam penanaman islam moderat dengan cara (1) diskusi, (2) materi aswaja (3) nasihat (4) peduli social.

Ais Banten

Para Pejuang Pahlawan Nasional dari Kalangan Ulama, Kiai, Santriwan & Santriwati dari kalangan Pesantren-Banten Versi AIS Banten

Previous article

Tangkal Radikalisme, Ponpes TQN Al Mubarok Adakan DTD Banser

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Minggu Pagi di Pesantren Al Istiqlaliyah

Rutinitas di Pondok Pesantren Al Istiqlaliyah di Kampung Cilongok, Kecamatan Pasar Kemis Kabupaten Tangerang, Minggu (12/5/2019). Tidak banyak pesantren yang mempunyai pengaruh besar ...

Eksistensi Santri Di Era Digital

Eksistensi santri di era ini kian meredup, bagaimana tidak keberadaan mereka kini kian tersamarkan. Elektabilitas kaum sarungan seakan-akan tergeserkan oleh mereka kaum intelektual ...

Pemuda Mekar Kondang Gelar Maulid Nabi Muhammad

Peringatan Maulid Nabi Muhammad digelar Sabtu Malam (2/02/19) menggemakan pesan kesejukan untuk menjauhi fitnah dan caci-maki, dan mempererat tali silaturrahim. Pesan itu bergema ...

Ngaji Tapi Tak Punya Guru?

Seorang guru adalah sosok panutan yang selalu mewarnai kehidupan seorang santri. Hidupnya seakan disorot, diawasi dan diperhatikan oleh sang kyai. Maka seorang santri ...