Santri BantenSejarah

Mama Sempur dan Tiga Santri Asal Banten

1
Mama Sempur

Satu kehidupan pesantren salafiyah di tahun 1948 saat mana kolonialisme Belanda masih bercokol setelah pecahnya Agresi militer II, itu merupakan gambaran umum susahnya semua pesantren di Indonesia, tak terkeculai pesantren yang berada di Sempur Plered Purwakarta yang diasuh oleh sosok kiai kharismatik.

Pada kehidupan sehari-harinya sosok tua yang wibawa ini pukul 04:00 subuh sudah bersila dan berdzikir di dalam masjid pesantren, kemudian dilanjutkan dengan mendirikan shalat Subuh berjamaah, selepas berjamaah subuh pengasuh pondok ini tetap bersila sampai waktu duha tiba, kemudian melaksanakan shalat duha dan dilanjutkan kembali dengan mengajar ngaji santri sampai pukul 11.00 WIB.

Usai mengajar ngaji santri, jadwal pengajian selanjutnya adalah mengajar ngaji kiai-kiai sekitar kampung dan dilanjutkan dengan shalat dhuhur berjamaah. Kemudian ia pulang ke rumah dan istirahat. Namun ajengan ini tak pernah bisa istirahat sepenuhnya, karena sudah ditunggu para tamu sampai waktu ashar.

Selepas shalat Ashar, sang Ajengan ini kembali mengaji bersama para santri hingga menjelang maghrib. Selepas maghrib, istirahat sejenak dan shalat Isya, setelah shalat isya, ia kembali mengajar sampai pukul 23.00 WIB. Bahkan menurut satu kesaksian bahwa kebiasaan Ajengan yang pernah diketahui oleh santrinya adalah ia tidak pernah batal wudhu sejak isya sampai subuh dan tidak pernah terlihat makan.

Sang Ajengan itu adalah KH Tb. Ahmad Bakri yang masyhur dikenal Mama Sempur. Mama merupakan istilah bahasa sunda yang berasal dari kata rama artinya Bapak. Di kalangan masyarakat Jawa Barat, kata Mama ini biasanya disematkan kepada Ajengan atau Kiai sehingga sebutannya menjadi Mama Ajengan atau Mama Kiai. Sementara Sempur adalah sebuah Desa yang ada di Kecamatan Plered, Purwakarta, Jawa Barat.

Mama Sempur lahir di Citeko, Plered, Purwakarta, Jawa Barat pada tahun 1259 H atau bertepatan dengan tahun 1839 M, ia merupakan putera pertama dari pasangan KH Tubagus Sayida dan Umi, selain KH Tubagus Ahmad Bakri dari pasangan ini juga lahir Tb Amir.

Abuya Dimyati Cidahu

Diantara sekian santri Mama Sempur terdapat 3 santri asal Banten, ketiga santri yang kisaran usia 20-an tahun ke atas sepertinya kompak, meski salah satunya ada yang selalu jail namun berotak encer, diantara ketiga santri itu pula ada yang cerdas, dengan perawakan yang gagah dan tinggi, santri yang tak banyak tingkah ini pun bersikap luwes dengan 3 serangkai asal Banten ini, dan satunya lagi lebih senior yang mempunyai karakter ngemong terhadap 2 karibnya ini.

Bahkan Mama Sempur yang garis keturunannya asal dari Pandeglang Banten merasa sedarah dengan 3 santri tersebut, begitu sayangnya terhadap ketiganya layaknya kepada anak-anaknya.

Salah satu santri asal Banten itu dipanggil oleh Mama dengan panggilan Dimyati, sosok santri yang berotak encer, berbadan tinggi kurus, perbawaannya kalem dan tenang begitu ia akrab dipanggil sebagai mang dim, belakangan santri bernama Dimyati itu kemudian terkenal sebagai Abuya Dimyathi Cidahu Cadasari ( al -Ustadz al-Akbar al-Hafidz al-Zahid Syaikh Muhammad Dimyathi bin Amin ) Sufi Agung Banten, mursyid tarekat Syadziliyyah yang wafat tahun 2003 di Cidahu Pandeglang.

KH. Syanwani

Di hari berikutnya Mama Sempur itu pun memanggil santri asal Banten lainya, dan santri itu sering dipanggil dengan mang Mamat, santri ini bertubuh dampak berkulit kuning, berotak encer, banyak gerak, energik dan gesit namun terkadang nyeleneh, belakangan santri yang dipanggil mang Mamat itu di kemudian hari dikenal sebagai Yai Syanwani Sampang atau Abah Mamat ( al-Ustadz al-Kabir al-Zahid al-Arif billah Syaikh Syanwani bin Abdul Aziz ), kiai agung pengasuh Pondok Pesantren Ashhabul Maimanah Sampang Susukan Tirtayasa Serang yang wafat tahun 1993 di Sampang.

Kemudian santri asal Banten yang lainnya dan tak kalah hebatnya adalah yang sering dipangil dengan mang Sanja, santri ini kekar, tangguh, pendiam dan tenang, belakangan santri asal Banten ini dikenal sebagai Mama Sanja ( al-Alim al- Arif billah Syaikh Sanja ) Kadu Kaweung, sang legenda Alfiyah yang wafat tahun 1999.

Ketiga santri asal Banten itu sekian dari ratusan santri yang diasuh Mama Sempur hingga di kemudian terkenal di zamannya, mereka mampu meneruskan telajak dan cita-cita Sang Mama untuk terus mensyiarkan ilmu-ilmu Islam dan menyebarluaskan pemikiran-pemikiran gurunya Sang Mama yang masyhur digelari sebagai Sayyid Ulamai al-Hijaz, yakni al-Mudaqqiq al-Zahid al-Hafidz al ‘Allamah Syaikh Nawawi Tanara Al Bantani, sang legenda kitab kuning Indonesia.

KH Sanja

Dengan demikian terdapat sanad (sambungan intelektualisme dan sambungan batiniyyah) dari Syaikh Nawawi ke Mama Sempur sebagai penerus tradisi ilmiah madzhab sunni yang telah diwariskan ulama-ulama sebelumnya. Sedangkan ketiga santri asal Banten itu adalah generasi ketiga dengan mewarisi luasnya ilmu alat dari Sang Mama yang kala itu masyhur dikenal sebagai sang legenda ilmu alat.

Dari kisah nyata ini sebenarnya ada pembelajaran yang bisa kita petik terutama sekali adalah “ ketersambungan “ ( sanad ) ilmu dan ajaran agama dari ulama terdahulu hingga sekarang tanpa terputus. Ini menunjukan sikap kita mengikuti ( ittiba’ ) jejak ulama terdahulu sebagai cita-cita menghadirkan Islam sebagai agama yang benar dan sempurna. Mewujudkan Islam sebagai petunjuk umat manusia yang berkeinginan untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat.

oleh: Hamdan Suhaimi

Ciujung, 23-9-2020
Ketua PW Rijalul Ansor Banten

Ais Banten

IDA FAUZIYAH MENTERI KETENAGAKERJAAN YANG DIKADER DARI ORGANISASI NU

Previous article

You may also like

1 Comment

  1. Mantul

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ratusan Santri Banten Serukan Perangi Hoax

Meresepon maraknya hoax terutama di media sosial yang pengaruhnya mulai berdampak buruk dalam kehiduan nyata di lingkungan masyarakat, komunitas santri Banten yang tergabung ...

NU Banten Adakan Launching Digital Media NU

AISBANTEN, Kamis, 14/3/2019. Kegiatan Workshop dan Launching media digital NU.Dilaksanakan pada Hari Kamis, Tanggal 14 Maret 2019. Dengan Mengusung Tema: _”NU baru masyarakat ...