BeritaTokoh

Ghiroh NU Uwais Qorni si Banser Cilik

0

Pada Diklat Terpadu Dasar (DTD) yang diadakan oleh PAC Kec. Anyer jum’at lalu (12/4/19) , ada pemandangan yang lain dari kegiatan DTD Banser biasanya, karena ditengah-tengah peserta DTD tampak bocah lucu nan lugu yang amat ceria mengikuti rangkaian kegiatan pada acara tersebut.

Bocah kecil bertubuh mungil ini terus menyiratkan tawa dari wajah manisnya. Sumringahnya membangkitkan semangat orang-orang sekitar. Bisik-bisik salut terus berdesis dari mulut ke mulut. Tampak rasa cinta yang murni terpancar dari mata dan gurat-gurat wajah lucunya. Uwes Qorni, begitulah ia disapa. Ia adalah bocah kecil berumur 8 tahun, yang kini masih duduk di bangku SD sebagai murid kelas dua di SDN Cingeunah Waringin Mancak, yang wajarnya masih senang bermain dengan teman-teman sebayanya.

Uwes adalah peserta yang mengikuti Diklat Terpadu Dasar (DTD) Banser yang diadakan oleh Gerakan Pemuda Pimpinan Anak Cabang Kec. Anyer yang diselenggarakan di Kp. Kaduodeng, Des. Banjar Sari, Anyer yang mana yang berperan sebagai ketua pelaksana acara ini adalah Kang Miftah dari PAC Anyer dan Uwes Qorni adalah salah satu pesertanya yang berasal dari Kecamatan Mancak. Untuk peserta yang mengikuti DTD Banser sendiri memang terdapat beberapa kwalifikasi termasuk menyangkut usia peserta, namun pada Diklat Banser kali ini ada kwalifikasi khusus untuk Uwes, karena melihat semangat Uwes yang luar biasa tinggi untuk mengikuti kegiatan DTD, juga adanya rasa cinta Uwes yang tulus murni terhadap Nahdlatul Ulama (NU) yang membuncah.

Uwes Qorni memang sudah sejak lama ingin menjadi seorang Banser dan ingin mengikuti setiap kegiatan DTD yang di adakan, namun karena beberapa alasan, barulah pada kesempatan kali ini Uwes diperbolehkan pihak keluarga untuk mengikuti DTD yang diadakan oleh PAC Anyer, tutur Kang Didi paman Uwes Qorni. Uwes adalah putra dari Ust. Ahmad Miftahurrohmat atau yang biasa dijuluki Gus Tatang dan Uwes ini adalah cucu dari H. Ahmad Syahiruddin yang mana tak lain dan tak bukan beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah Kp. Legok Cau, Des. Waringin, Kec. Mancak.

Alasan bocah kecil ini ingin menjadi seorang Banser dan mengikuti Diklat Terpadu Dasar adalah karena ia sudah memahami beberapa pengetahuan tentang NU dan NKRI. Diusianya yang masih belia tak lantas menjadikannya acuh dengan segala hal yang berkaitan dengan agama dan Negara. Penanaman terhadap agama, Nahdlatul Ulama dan kecintaan terhadap Negeri sudah diajarkan sejak dini oleh orangtuanya, karena memang Uwespun berada pada lingkungan NU.

Ujar salah satu panitia Andis Kurniawan, Pada saat uwes meminta untuk mengikuti DTD ia masih bersikap wajarnya anak kecil yang merengek dan meronta seperti layaknya seorang anak yang merengek meminta dibelikan ice cream oleh ibunya. Begitu jugalah yang dilakukan Uwes ketika meminta izin terhadap ayahnya Gus Tatang untuk mengikuti Diklat Terpadu Dasar Banser.

Singkat cerita, pada hari dilaksanakannya DTD beberapa panitia acara DTD yaitu Andis Kurniawan (Ketua PAC Kec. Mancak) dan Andi Afandi (Sekjen GP Ansor Kab. Serang) sedang berada dikediaman paman Uwes Qorni, karena selain ayah Uwes seorang Banser, paman-paman Uwes juga Kang Didi dan Kang Uung adalah panitia acara DTD tersebut karena kedua paman Uwespun adalah Banser. Uwes Qorni ini bocah kecil yang cukup dekat dengan pamannya, sehingga Uwes sering ikut berkumpul dengan teman-teman pamannya saat paman-pamannya mengobrol. Pada waktu itupun itulah yang dilakukan Uwes, Uwes ikut menguping dan mendengarkan obrolan paman-pamannya bersama sahabat-sahabat pamannya tentang akan diadakannya DTD di Kec. Anyer.

Kebetulan Pada waktu akan dilaksanakannya DTD Anyer itu berbarengan dengan akan dilaksanakannya haul kakek Uwes Qorni dari jihat uminya, yang mana haul ini akan diadakan di Balaraja Tangerang, karena memang ibunda dari Uwes ini berasal dari Kota Tangerang.

Pada saat umi Uwes mengajak Uwes untuk ikut ke Balaraja tangerang, sambil terisak-isak menangis Uwes menolak permintaan uminya yang mengajaknya keacara haul kakeknya itu. melihat tangisan Uwes yang kekeh tidak ingin ikut, akhirnya dengan berat hati umi Uwes membiarkan Uwes untuk tidak ikut ke Tangerang. Setelah Umi dan Abi Uwes Qorni berangkat ke Balaraja, Uwes dengan watak ngambek wajarnya seorang anak kecil, terlihat murung tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Sikap itupun yang ditunjukan Uwes ketika ditanya oleh Pamannya Kang Didi tentang alasan kenapa Uwes tidak ingin mengikuti permintaan uminya untuk ke Balaraja, tanpa jawaban Uwes hanya menutup mukanya dengan bantal.

Kemudian Kang Didi bertanya lagi kepada Uwes apakah Uwes ingin mengikuti Diklat Banser, dengan tegasnya Uwes mengiakan pertanyaan pamannya itu. Setelah Kang Didi mengetahui keinginan Uwes ini, Uwes diajak untuk menemui Kang Andis dan Kang Andi Afandi untuk mengutarakan keinginannya pada kedua panitia acara DTD ini. Setelah kang Andis dan kang Andi menangkap kesungguhan Uwes meski dengan usianya yang masih anak-anak akhirnya keinginan Uwes itu dikabulkan oleh kang Andis dan Kang Andi dan mengintruksikan kepada Uwes untuk mempersiapakan segala keperluan yang dibutuhkan pada saat DTD. Dengan semangatnya yang luar biasa untuk mengikuti DTD uwes menyiapkan segala keperluan DTD seperti sarung, peci pakaian olahraga dan beberapa perlengkapan lainnya seorang diri tanpa meminta atau mau dibantu oleh siapapun. Alasan lain yang membuat Uwes ingin sekali menjadi bagian dari Badan Otonom NU, karena ia memahami bahwa NU itu sanadnya (mata rantai) sampai pada Rosulullah SAW. Dari sinilah Ghiroh (semangat) Uwes Qorni menajam untuk berperan aktif dalam badan otonom NU dan berkhidmah (mengabdi) kepada NU serta merawat tradisi keaswajaan yang ada di Nusantara. Dari sosok Uwes ini, kita bisa banyak belajar bahwa dalam urusan cinta dan perjuangan itu tidak pernah memandang Usia. Uwes kecil bocah lugu yang harusnya bermain dan belajar layaknya anak-anak pada umumnya, ia justru menumbuhkan dan membangun jiwa kesatria dan jiwa seorang pejuang pada dirinya, dengan mengabdikan diri terhadap agama, Nahdlatul Ulama dan NKRI tercinta. Cc : Defah @oase_santri

Ais Banten

Ada Cinta di Pekalongan

Previous article

Sama-Sama Didukung Waliyulloh Tapi Masih Saja Ada Yang Kalah, Antara Joko Tingkir Dan Ario Panangsang

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita