BeritaTokoh

Kontribusi Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Terhadap Bahasa Arab

0

Oleh: Mughni labib

Indonesia pernah memiliki seorang intelektual pada abad 18 yang namanya terkenal sampai kepenjuru dunia terutama Timur Tengah, Asia Tenggara dan beberapa negara Eropa. Namanya selalu terkenang dalam hati para pencinta ilmu sampai sekarang, bukan hanya di lembaga pendidikan klasik bahkan lembaga pendidikan kontemporer pun menyebutnya The Great Scholar (Maha Guru). Dia adalah Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani seorang ulama indonesia berkaliber internasional yang namanya tidak hanya terkenal di Nusantara. Karena kualitas keilmuannya dan kecakapannya dalam menggunakan bahasa Arab sehingga ulama Arab Memberikan gelar kehormatan sebagai Sayyidul Hijāz (Tokoh Ulama Hijaz atau Saudi Arabia).

Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani adalah ulama kelahiran Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Privinsi Banten pada tahun 1898 M/ 1316 H (Khoiruddīn, 2002: 318) dengan nama lengkap Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi (Tim Raksa Ajar Indonesia, 2017: 16). Ayahnya bernama Umar Ibnu ‘Arabi seorang penghulu dan ibunya bernama Zubaidah (Rofi’ Usmani, 2015: 513). Sejak kecil

Muhammad Nawawi dididik langsung dibawah pengawasan ayahnya. Setelah memasuki usia remaja Muhammad Nawawi berguru kepada Kiyai Sahal dan beberapa Ulama terkenal di Banten dan Jawa Barat. Pada usia 15 tahun Muhammad Nawawi menunaikan ibadah haji dan menetap di Mekkah dan Madinah beberapa tahun. Selama itu, Muhammad Nawawi berguru kepada beberapa ulama di Mekkah diantaranya Syaikh Ahmad Nahrawi, Syaikh Ahmad Dimyati, Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syaikh Muhammad Khotib Al-Hanbali (Tim Ajar Raksa Indonesia, 2017: 18).

Muhammad Nawawi mengabdikan dan mengembangkan ilmunya dengan mengajar di Mekkah sampai wafat pada tahun 1857 M/ 1315 H. Jenazahnya dimakamkan di pemakan Ma’la berdekatan dengan Asma binti Abu Bakar As-Sidiq dan Ibnu Hajar Al-Haitami (Rofi’ Usmani, 2015: 514(ī
Perjalanan ilmiyah Muhammad Nawawi tidak sebatas mencari ilmu, selama di Mekkah beliau menghasilkan ratusan karya-karya yang mendunia dari berbagai bidang keilmuan Islam. Sampai saat ini karya-karyanya masih dipelajari di berbagai lembaga pendidikan formal maupun non formal. Jumlah buku yang ditulis Muhammad Nawawi kurang lebih 115 buku di bidang Tafsīr, Tauhīd, Tasawwuf, Fiqih, Bahasa, Hadist, dan lain-lain. Dari sekian banyak karya-karya Muhammad Nawawi, seluruhnya menggunakan bahasa Arab. Hal inilah yang membuatnya mendapatkan gelar kehoramatan Sayyidul Hijāz karena kemahirannya dalam berbagai disiplin ilmu dan kecakapannya dalam menggunakan bahasa Arab. Karya magnum opusnya yang sampai saat ini masih eksis menjadi sumber refrensi kalangan pelajar di berbagai negara yaitu Tafsīr Marāh Labīd.

Keproduktifan Muhammad Nawawi tidak hanya dalam bidang penulisan saja, begitu juga dalam mentransformasikan keilmuan kepada murid-muridnya. Hal ini terbukti banyak sekali murid-muridnya yang berasal dari indonesia menjadi tokoh agama yang terkenal atau bahkan menjadi pendiri organisasi islam dan bejuang demi memerdekakan Indonesia dari belenggu penjajahan kolonial Belanda. Pengaruh pemikiran Muhammad Nawawi terhadap murid-muridnya terealisasikan dengan terbentuknya dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul ‘Ulama yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari dan Muhammadiyah oleh KH. Ahmad Indonesia untuk berjuang melawan penjajahan.

Adapun karya-karya Muhammad Nawawi dalam bidang bahasa diantaranya: (1) Fath al-Ghāfir al-Khaththiyah ‘ala al-Kawākibal-Jalīyah fī Nazhm al-Jurūmiyah, (2) Al-Fushūh al-Yākūtīyah, komentar terhadap kitab Al-Rawdah al-Bahīyah fī al-Abwāb al-Tashrīfiyah karya ‘Abdul Mun’im ‘Iwadh al-Jirjāwi, (3) Kasyf al-Murūtīyah ‘an Sitār al-Jurūmiyah,komentar atas kitab Al-Jurūmiyah karya Abu ‘Abd Allāh Muhammad bin Muhammad bin Dāwūd al-Shanhājī bin al-Ājurūm (4) Lubab al-Bayān fī ‘ilm al-Bayān, komentar atas kitab Risālāt al-Isti’ārāt karya Syaikh Husayn al-Nawawī al-Mālikī, (5) Ar-Riyādh al-Qawliyāh (Tim Raksa Ajar, 2017: 26). Karya-karya Muhammad Nawawi dalam bidang bahasa tidak sepopuler karya-karya lainnya dalam bidang tafsir dan tasawuf. Dari kelima buku ilmu bahasa yang ditulis Oleh Muhammad Nawawi sudah sangat sulit ditemukan, bahkan dalam bentuk file PDF pun. Hal ini terjadi karena buku-buku tersebut sudah tidak lagi dicetak. Namun masih bisa ditemukan dalam bentuk naskah di perpustakaan Saudi Arabia.

Madzhab bahasa yang digunakan Muhammad Nawawi adalah madzah Bashroh. Hal ini bisa diidentifikasi pada karyanya Tafsīr Marāh Labīd. Muhammad Nawawi menafsirkan surat Ali ‘Imran ayat 81… لما معكم لتؤمنون… (…Lammā ma’akum latu’minūna…), menurut Muhammad Nawawi (2007: 119), lafad mā pada ayat tersebut berkedudukan sebagai mubtada yang dirofa’kan oleh ‘āmil ibtida. Pendapat ini menjadai ciri khas dari madzhab bahasa ulama Bashroh yang berpendapat bahwa setiap mubtada dirofa’kan oleh ‘āmil ibtida. Berbeda halnya dengan pendapat madzhab Kūfah, mereka berpendapat bahwasannya mubtada dirofa’kan oleh khobar bukan dengan ‘āmil ibtida. Begitu juga pada surat Yūsuf ayat 31 ما هذا بشرا…… (…Mā hādzā basyaran…), menurut Muhammad Nawawi (2007: 444), lafad Mā diserupakan dengan Laisa dari segi ma’nanya maupun ‘amalnya. Pendapat ini juga merupakan corak dari madzhab Bashroh, ulama basroh menyebutnya Mā Hijāzī yang diserupakan dengan lafadz Laisa baik dari segi ma’na dan ‘amalnya. Pendapat ini bertentangan dengan madzhab Kūfah yang berpendapat bahwasannya Mā Hijāzi tidak bisa diserupakan dengan Laisa, karena Mā merupakan huruf dan laisa adalah fi’il. Sedangkan huruf lebih lemah dari fi’il, maka batal nasobnya isim oleh Mā tetapi nashobnya isim oleh huruf jar yang dibuang (‘Abduh, 1970: 111). Tidak heran jika Muhammad Nawawi menggunakan madzhab bahasa Bashroh, karena madzhab ini cenderung lebih populer diantara madzhab-madzhab lainnya. Namun, tidak menutup kemungkinan Muhammad Nawawi juga menggunakan madzhab bashroh mengingat tidak ada ketetapan khusus bahwa setiap orang hanya boleh menggunakan satu madzhab bahasa saja.

Perhatian Muhammad Nawawi terhadap bahasa Arab bisa dilihat dari sebagian karya-karyanya tentang ilmu kaidah bahasa Arab. Hal ini menjadi bagian kontribusi Muhammad Nawawi terhadap bahasa Arab. Selain menulis ilmu kaidah bahasa arab, Muhammad Nawawi juga mengomentari dan mengulas (Mensyarah) buku-buku terdahulu untuk mempermudah dan menambah wawasan pembaca. Karena, sering dijumpai kalimat-kalimat yang memang sulit difahami oleh pembaca dengan keterbatasan keilmuannya. Dengan kualitas dan keluasan keilmuannyalah, Muhammad Nawawi mencoba mengulas karya-karya pengarang sebelumnya dan berusaha menyampaikan pesan pengarang terdahulu dalam karya-karyanya melalui komentar dan ulasan (Syarah) Muhammad Nawawi agar mudah difahami oleh pembaca. Terbukti dari sekian banyak karya Muhammad Nawawi mayoritas mengulas karya-karya pengarang terdahulu.

Kemampuan berbahasa seorang pembaca dalam memahami karya-karya yang berbahasa Arab menjadi salah satu faktor terpenting dalam mentranformasikan keilmuan. Menurut Zuhcridin Suryawinata (1996: 26), bahwa bahasa mempunyai peran vital dan strategis dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pembangunan nasional. Kesadaran terhadap pentingnya bahasa dalam proses perkembangan keilmuan sudah diperhatikan oleh Muhammad Nawawi sejak abad 18 melaului karya-karyanya dalam bidang bahasa dan komentarnya terhadap karya pengarang terdahulu. Muhammad Nawawi tidak menerjemahkannya kedalam bahasa indonesia, tetapi Muhammad Nawawi memaparkannya dengan menggunakan tarodduf (sinonim) kata yang lebih mudah untuk difahami oleh pembaca. Ini semua dilakukan oleh Muhammad Nawawi demi menjaga eksistensi bahasa arab dan mudah diterima oleh berbagai kalangan masyarakat di berbagai negara, mengingat bahasa Arab sebagai bahasa pokok umat islam. Adapun sebab-sebab pentingnya menguasai bahasa arab adalah: (1) Sumber asli rujukan agama Islam adalah Al-Qur’an dan Hadist ditulis dengan bahasa Arab, (2) Karya-karya Ulama besar yang mempengaruhi alur pemikiran umat islam menggunakan bahasa Arab, (3) kajian keislaman semakin berkualitas jika menggunakan bahasa Arab atau berefrensi dari sumber berbahasa Arab (4) Realitas pendidikan di Universitas-universitas cenderung mengutamakan refrensi berbahasa arab dalam kajian keislaman.

Demikianlah kontribusi Muhammad Nawawi seorang intelektual pada abad 18 terhadap bahasa yang sampai saat ini alur pemikiran selalu melekat dalam benak umat islam indonesia. Komentar dan ulasan karya Muhammad Nawawi bukanlah menjadi sebuah kemunduran intelektualitas islam karena tidak mampu menciptakan karya-karya baru. Namun, ini justru merupakan kontribusi yang besar dalam proses transformasi keilmuan agar karya-karya terdahulu yang cenderung sulit untuk difahami dan sedikit penjelasannya bisa dengan mudah difahami.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menginspirasi kita semua dalam membangun perdaban islam, menjaga kualitas dan kuantitas intelektualitas islam agar terus berkembang. Sehingga memberikan kebanggaan tersendiri bagi umat islam bukan hanya dari pencapaian keilmuan dimasa lampau saja. Tetapi, pencapaian keilmuaan dimasa yang akan datang dengan munculnya para tokoh-tokoh intelektual kontemporer yang memberikan corak tersendiri bagi perkembangan ilmu pengetahuan umat islam.


DAFTAR PUSTAKA
Ar-Rājihī, Abduh, Durūsu Fī al-Madzāhib an-Nahwiyah, (Beirut: Dār an-Nahdloh al-‘Arabiyah: 1970).
Nawawi, Muhammad bin ‘Umar Al-Bantanī, Marāh Labīd Tafsīr Nawaī, (Beirut: Dār al-Fikr, 2007).
Raksa, Tim Ajar Indonesia, Terjemah Uqudul Lujjain, (Banten: Dinas Perpustakaan dan Kerasipan Provinsi Banten, 2017)
Rofi’, Ahmad Usmani, Ensiklopedia Tokoh Muslim (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2015)
Suryawinata, Zuchridin, Pendidikan Bahasa dan Pembangunan, (Malang: Departemen Kebudayaan dan Pendidikan, 1990)

Pengobatan Menurut Al-Qur’an

Previous article

Islam Moderat yang Berdaulat

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita

Warga Ciomas Banten Antusias Ikuti DTD Banser

Peserta dari berbagai wilayah yang ada dikabupaten Serang berkumpul dan berbondong-bondong menuju Pondok Pesantren Babussalam Ciomas Asuhan Abah KH. Fahyumi untuk mengikuti Diklat ...

Pesan KH. Lukman Hakim Untuk Santri Nusantara

Kementerian Agama menyelenggrakan acara ORKESTRA PERDAMAIAN dalam rangka menyambut Hari Santri 2019. 19/19. Dengan tema “Seribu Cahaya Santri untuk Perdamaian Dunia” Sebuah pagelaran ...

Tiga Karakter Ajaran Kiai Kepada Santri

Setiap generasi mememiliki tantangannya sendiri tak terkecuali generasi santri dulu tentu berbeda dengan generasi santri zaman milenial. Hari ini, sumber daya manusia yang ...