BeritaTokoh

SILATURRAHMI RAIS AM PBNU DI KOTA SERANG

0

Serang, Senin, 25 Maret 2019

Pagi yang begitu cerah. Di gedung PWNU Banten diadakan silaturrahmi antara Rais Am PBNU, KH. Miftahul Achyar dengan para kyai kampung, dan pengasuh pesantren dari 3 kabupaten dan kota, yaitu Kota Serang, Kabupaten Serang dan Kota Cilegon. Tidak kurang dari 300 Nahdliyyin memadati aula utama PWNU Banten, dan mengikuti acara ini dengan antusias.

KH. Miftahul Achyar didampingi oleh KH. Nurul Yaqin dan KH. Miftah Faqih (Katib PBNU). Hadir dari jajaran PWNU Banten, KH. Hariman Anwar (Syuriyah) dan dari Tanfidziyah diwakiki oleh KH. Sardani dan KH. Sukron Makmun. Hadir juga para pengurus PC Kabupaten Serang KH. Dahlan, Kota Serang dan Kota Cilegon.

Dalam sambutannya, Rais Am PBNU menjelaskan bahwa di dalam tradisi pesantren itu tidak ada demo. Sejak santri mereka diajarkan untuk sami’na wa atha’na kepada kyainya. Kepemimpinan di pesantren adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kejernihan hati (Shaf’aul qalbi), keridha’an guru dan orang tua.

Santri, pada umumnya tidak pernah bercita-cita mau jadi apa, tapi santri selalu siap pakai. Tidak pernah neko-neko tapi siap pakai.

Dengan demikian, kesediaan Kyai Ma’ruf Amin (KMA), yang notabenenya adalah seorang ulama tapi mau terjun ke politik, tidak lain adalah karena dua alasan yang sangat fundamental, yaitu kebangsaan dan kemaslahatan.

NU punya komitmen untuk setia dan menjaga NKRI dari segala bentuk acaman. Karena pada saat ini, memang di tengah-tengah kita semu ini, sudah betul-betul ada sebuah organisasi kecil yang punya karakter, menghancurkan/ menghilangkan semuanya. Kita bisa flashback sejarah. Di Hijaz dan negeri-negeri lain di Timur Tengah itu hancur karena kelompok-kelompok tersebut. Dulu, di Saudi Arabia, ajaran yang ada adalah Aswaja. Namun setelah Wahabi, suatu organisasi kecil yang berkedok agama itu masuk dan bersekongkol dg penguasa, maka semua bangunan akidah dan bangunan-bangunan hasil dari peradaban Islam yang ada dirusak. Situs-situs warisan budaya Islam yang luhur juga diratakan. Seandainya bukan karena ushulan komite Hijaz, yang diinisiasi oleh para pendiri NU, maka makam Rasulullah juga mungkin tidak bisa lagi diziarahi oleh umat Islam dari seluruh penjuru dunia.

KH. Ainul Yaqin, orang Banten yang juga pengurus PBNU, yang turut hadir mengatakan bahwa Banten punya kaitan yang kuat dengan NU, karena para pendiri dan para Kyai NU itu semua berguru/ memiliki silsilah keilmuan dengan Syeikh Nawawi al-Bantani. Pilpres saat ini merupakan bagian dari hajat besar NU. Karena calonnya adalah orang NU, orang Banten yang secara silsilah masih nyambung dengan Syeikh Nawawi. Tahun 1928 sudah dibentuk cabang NU Banten, dan pada tahun 1938 diadakan Muktamar NU di Menes. Ini tidak lain, karena Banten dan NU itu tidak dapat dipisahkan. Maka jika Banten saat ini NU-nya kendor, pengurusnya kurang semangat. Maka sebagai orang Banten, harusnya malu dengan ulama Banten yang tersohor itu, Syeikh Nawawi al-Bantani. [SM]

Penulis : KH.Sukron Ma’mun,Lc.LL.M

Ratusan Santri Banten Serukan Perangi Hoax

Previous article

SANTRI ERA BARU DI ZAMAN MILENIAL

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita

Warga Ciomas Banten Antusias Ikuti DTD Banser

Peserta dari berbagai wilayah yang ada dikabupaten Serang berkumpul dan berbondong-bondong menuju Pondok Pesantren Babussalam Ciomas Asuhan Abah KH. Fahyumi untuk mengikuti Diklat ...

Pesan KH. Lukman Hakim Untuk Santri Nusantara

Kementerian Agama menyelenggrakan acara ORKESTRA PERDAMAIAN dalam rangka menyambut Hari Santri 2019. 19/19. Dengan tema “Seribu Cahaya Santri untuk Perdamaian Dunia” Sebuah pagelaran ...

Tiga Karakter Ajaran Kiai Kepada Santri

Setiap generasi mememiliki tantangannya sendiri tak terkecuali generasi santri dulu tentu berbeda dengan generasi santri zaman milenial. Hari ini, sumber daya manusia yang ...