Aqidah AhlakKeislaman

Antara Fiqih, Tasawwuf & Tauhid

0


Berbicara tentang fiqih tentu yang tergambar di dalam fikiran kita adalah hukum. Dan berbicara tentang tasawwuf akan menarik kita kedalam kehidupan sufi yang memurnikan amal perbuatannya kepada Allah. Sementara berbicara tentang tauhid, berarti kita mengesakan Allah swt. Tiga hal ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Ibarat segitiga yang memiliki 3 garis, jika salah satu garis ditiadakan maka tidak akan menjadi segitiga.

Begitupula dengan kehidupan manusia yang kompleks ini. Manusia diciptakan di dunia ini setelah melalui proses. Sebuah proses di mana ia dihadapkan dengan pilihan dan perjanjian. Perjanjian sebelum ia dilahirkan di dunia agar mengakui dan berjanji untuk taat kepada Allah. Yang pada akhirnya ia memilih pilihan sesuai hati nuraninya sebagai seorang manusia yang dilengkapi dengan akal pikiran. Sehingga ia berwenang untuk memilih akankah ia taat dengan aturan-aturan yang telah ditentukan, ataukah sebaliknya ia akan melawan bahkan menentang keberadaan aturan tersebut. Dan pada akhirnya ia akan digolongkan sebagai ahli surga atau neraka.

Aturan yang dibuat agar hidupnya bahagia baik ketika masih berada di dunia atau akhirat. Sehingga aturan-aturan inilah yang menentukan sahnya ibadah serta keteraturan hidupnya. Dari sekian ibadah yang dibebankan kepada seorang manusia yang berakal (mukallaf) tentu memiliki aturan-aturan yang berlaku, dengan memperhatikan syarat, rukun, dan sebagainya. Sehingga hal itu menuntutnya untuk mempelajari tata cara beribadah dan berinteraksi dengan sesamanya (mu’amalah). Yang kembali ke dalam ranah pribadi dan masyarakat, dan bersinggungan dengan hak pribadi dan sosial.

Namun dari sekian ibadah yang dilaksanakan, terkadang seseorang merasa hampa dengan praktik ibadah tersebut, sehingga ia seakan merasa hampa dengan ibadah tersebut dan seakan-akan ibadah yang ia lakukan semenjak kecil sampai dewasa hanya sebagai rutinitas keseharian, mingguan, bulanan dan tahunan saja. Tanpa ada ketenangan kesejukan dan kebahagiaan di balik ibadah itu semua. Kehampaan dan goncangan ia rasakan setiap harinya, tanpa menemukan secercah cahaya, atau bahkan cahaya yang dimiliki di dalam hati sedikit demi sedikit meredup, bahkan semakin lama semakin gelap dan sirna.

Maka sudah menjadi keniscayaan bagi seorang Hujjatul Islam Al-Ghozzali yang melanglang buana dalam dunia keilmuan, pemikiran dan perdebatan, merasakan kehampaan itu. Dan ia pun memulai hidup baru untuk mengobati kegoncangannya dengan mengejar ilmu tasawwuf. Sebuah ilmu yang visi dan misinya adalah menjernihkan hati dari segala penyakit-penyakitnya. Sehingga ia tanggalkan semua gelar, jabatan, dan kedudukan yang pernah ia miliki. Dan pada akhirnya ia menemukan ilmu tersebut di tangan seorang yang dianggap orang sebagai seorang yang hina dan tidak memiliki kelebihan sedikitpun. Al-Ghozzali pada akhirnya tunduk dan patuh kepadanya dan menanggalkan ilmu-ilmu yang ia miliki.

Setelah selesai dari proses bertasawwuf, terlahirlah seorang al-Ghozzali yang baru, dengan membawa hal yang baru yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Ialah Al-Ghozzali yang Sufi, yang mampu menerapkan ibadah yang diperintahkan Allah ke dalam jiwa dhohir dan bathin. Maka, satu hal yang dianggap tidak perlu oleh ulama fiqih ia masukkan ke dalam rukun sholat. Ialah khusyu’, sebuah kondisi di mana seseorang merasa ingat kepada sang pencipta dan ketenangan, perasaan dekat, dan penghayatan di dalam sholat dirasakan dengan perasaan yang kuat. Sehingga, karena khusyu’ adalah sebuah rukun dalam sholat, maka dengan ketiadaan khusyu’ maka sholatnya sama saja belum terlaksana.

Jika perasaan itu di dalam sholat, maka bagaimana perasaan dekat kepada Allah, merasa terawasi, bertafakkur dalam segala hal yang ia saksikan dan temui? Sehingga, kehidupan yang diwarnai dengan tasawwuf akan melahirkan ketauhidan serta pengesaan kepada Allah swt. Setiap nafas, ucapan, suara, harta, kehidupan, dan kejadian yang dialami, semuanya akan dihubungkan dengan Allah swt.

pengagungan dan pengesaan kepada Allah akan tertanam di dalam diri tanpa terasa dan tanpa melalui proses berfikir, seakan seperti refleks yang muncul tiba-tiba tanpa direncanakan. Sehingga ia menyimpulkan bahwa segala sesuatu merupakan bentuk keagungan Allah yang ditampakkan kepada manusia, tanpa memerlukan dalil aqli ataupun naqli yang tertuang di dalam literatur ilmu tauhid. Betapa indahnya jika kehidupan kita dipenuhi dengan pentauhidan kepada Allah. Itu menjadi sebuah kenikmatan yang tiada bandingannya. Imam Malik berkata:

مَنْ تصوف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن تفقّه ولم يتصوّف فقد تفسّق، ومن جمع بينهما فقد تحقّق

“Barang siapa yang bertasawwuf tanpa berfiqih, maka ia telah menjadi zindiq, dan barang siapa berfiqih tanpa bertasawwuf, maka ia telah fasiq, dan barang siapa yang memadukan antara keduanya, maka ia telah mendapatkan haqiqoh.” [Zurruq Al-Fasi, Qowa’id Tasawwuf, hlm 15-16]

Maka perpaduan antara fiqih dan tasawwuf akan melahirkan haqiqoh yang merupakan bagian dari tauhid. Dan perlu ditekankan bahwa sahnya ibadah yang kita laksanakan adalah berpedoman dengan fiqih, yang kemudian harus dihiasi dengan tasawwuf. Dan setelahnya itu akan mengasah ketauhidan kita kepada Allah swt.

Cinangka, 14 Agustus 2019.

(Abdul Aziz Jazuli, Lc/Ais Banten)

Ais Banten

Perkuat Aswaja AIS Banten Gelar PKPNU Untuk Gawagis Nawaning dan Santri Banten

Previous article

Abuya Muhtadi Dimyati : Pancasila Amanah Ulama

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Aqidah Ahlak

Ulama Matic & Manual

Model mesin saat ini, baik motor atau mobil terdapat dua macam. Yaitu matic dan manual. Yang pertama tanpa harus repot-repot menaik-turunkan gigi. Dan ...

Apakah Daging Ulama Beracun?

Oleh: Abdul Aziz Jazuli Apa Benar Daging Ulama Beracun? Siapa yang tau keagungan ulama? Terlalu banyak teks ayat dan hadist yang menerangkan keutamaan ...

SANTRI ERA BARU DI ZAMAN MILENIAL

Oleh: Abdul Aziz Jazuli, Lc Santri merupakan sebutan bagi seseorang yang tinggal di pesantren dan mengikuti pendidikan agama di sana. Biasanya seorang santri ...

Kenapa Wanita Harus Cantik Luar Dalam?

Wanita adalah mahluk Allah yang diciptakan mulia. Wanita adalah mahluk yang dimudahkan masuk surganya dan dimudahkan juga masuk nerakanya. Menjadi wanita bukan hanya ...