Aqidah AhlakKeislaman

SANTRI ERA BARU DI ZAMAN MILENIAL

0


Oleh: Abdul Aziz Jazuli, Lc


Santri merupakan sebutan bagi seseorang yang tinggal di pesantren dan mengikuti pendidikan agama di sana. Biasanya seorang santri membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan jenjang pendidikan. Apalagi jika ia tergolong pemula dalam menimba pengetahuan ilmu agama. Sementara milenial ialah sebuah istilah yang sekarang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Yang termasuk dalam generasi milenial ialah yang lahir pada generasi yang lahir sekitar tahun 1980 an sampai tahun 2000 an. Dengan kata lain merekalah yang umurnya berkisar antara 15-35 tahun. Sehingga, santri millenial ialah santri yang berumur antara 15-35 tahun.


Dengan majunya teknologi di seluruh belahan dunia, dengan mudahnya mengakses internet dari berbagai media: handphone, tablet, laptop dan lain sebagainya. Berbagai layanan jejaring sosial juga semakin memudahkan komunikasi antara kerabat, sahabat, kawan dan keluarga. Mulai dari gmail, Facebook, Twitter, Instagram, Telegram, Youtube, Whatsapp, Wechat, dan lain sebagainya. Bahkan sebagian perusahaan memanfaatkannya dengan maksimal dan menjadi usaha yang banyak menghasilkan keuntungan. Baik berupa jasa online, bahkan jual beli online. Semua itu adalah manfaat besar dari komunikasi dan penyebaran informasi yang mudah antar individu walaupun antara jarak yang jauh.


Namun, di balik manfaat yang begitu besar ia juga mengandung banyak madharat, terutama tentang informasi. Karena mudahnya akses informasi, tentu semua info akan tercampur dan sulit untuk memilah-milah mana informasi yang real dan informasi yang hoax. Karena informasi itu termasuk kalam khobari –dalam bahasa pesantren-, dan semua informasi itu dapat dikategorikan sebagai informasi yang benar atau salah. Sementara efek dari informasi –terutama hoax- sangatlah fatal. Karena dari hoax itu dapat memicu perpecahan, permuhan bahkan konflik dalam sebuah negara. Seperti konflik yang terjadi di beberapa Negara di Timur Tengah. Maka, sebagai seorang santri, terutama santri milenial berkewajjiban untuk menangkal berita-berita hoax. Dan jangan sampai ia menyebarkan berita tanpa mengklarifikasinya. Dan itu merupakan salah satu tujuan utama Arus Informasi Santri (AIS) Banten.


Di samping itu, jika kita perhatikan bahwa tokoh-tokoh ulama yang ada di Banten secara khusus dan Indonesia secara umum ini sangatlah banyak. Namun, karena minimnya publikasi untuk mengenalkan mereka di dunia media sosial, ketokohan mereka kurang begitu dikenal oleh masyarakat luas. Sehingga santri memiliki tugas untuk mengenalkan mereka di dunia sosial, baik dengan menyebarkan mutiara-mutiara hikmah mereka, ataupun dengan mengupload pengajian-pengajian beliau-beliau. Hal ini sebenarnya sama seperti popularitas para da’i-da’i di media sosial. Popularitas mereka dapatkan karena seringnya unggahan vidio ceramah mereka di medsos, sehingga masyarakat luas mengenal dan mengenali mereka dengan mudah. Maka, salah satu tugas santri adalah mengenalkan ulama-ulama dan kyai-kyai mereka di media sosial agar masyarakat mengenal dan tidak asing lagi dengan ulama dan kyai kita. Memang berat, tapi lebih berat lagi adalah tidak mau memulainya.


Santri yang cerdas adalah santri yang bisa membaca situasi dan kondisi di zaman dia berada. Sementara wawasan santri tidak boleh hanya terbatas pada kajian dan pendidikan yang di pesantren saja, tetapi ia juga harus menyesuaikan diri dengan zaman dan masanya. Pola pikir seorang santri harus modern, bukan apa-apa tetapi semata-mata agar tidak ketinggalan zamannya. Ulama-ulama kita terdahulu begitu giat dalam mengembangkan pemikirannya. Bahkan banyak penemuan-penemuan penting seperti kacamata atau ilmu pembedahan pun dikuasai. Itu adalah contoh dari sebagian kecil dari hasil karya ulama-ulama kita terdahulu yang peka dan beradaptasi dengan zamannya. Maka, hal itu tidak terlalu sulit dilakukan oleh generasi santri milenial di masa kini. Sebagai contoh kecil, di mana pola pikir yang berlaku di pesantren adalah tidak bolehnya terjun di dunia politik; karena merujuk kepada karya-karya klasik yang tidak mendukung andil dalam dunia politik dan sikap dari ulama-ulama terdahulu yang antipati terhadap yang berbau politik. Pola pikir ini harus dibuang jauh-jauh dari pemikiran santri. Karena jika kita kembali kepada sejarah Indonesia, Organisasi Nahlatul Ulama pernah menjadi sebuah partai yang ikut bergelut dan berlaga di tahun 70-an. Walaupun pada akhirnya ulama-ulamanya tidak lagi menggunakannya karena kemaslahatan tertentu. Meski demikian, kita dapat membaca bahwa ulama-ulama kita tidak akan luput dari politik. Sehingga, santri tidak boleh mempertahankan pemahaman klasik yang tidak relevan dengan masanya dan ia harus mengimbangi masanya dengan wawasan dan pengetahuan yang dibutuhkan.

SILATURRAHMI RAIS AM PBNU DI KOTA SERANG

Previous article

Apakah Daging Ulama Beracun?

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Aqidah Ahlak

Ulama Matic & Manual

Model mesin saat ini, baik motor atau mobil terdapat dua macam. Yaitu matic dan manual. Yang pertama tanpa harus repot-repot menaik-turunkan gigi. Dan ...

Apakah Daging Ulama Beracun?

Oleh: Abdul Aziz Jazuli Apa Benar Daging Ulama Beracun? Siapa yang tau keagungan ulama? Terlalu banyak teks ayat dan hadist yang menerangkan keutamaan ...

Kenapa Wanita Harus Cantik Luar Dalam?

Wanita adalah mahluk Allah yang diciptakan mulia. Wanita adalah mahluk yang dimudahkan masuk surganya dan dimudahkan juga masuk nerakanya. Menjadi wanita bukan hanya ...

Hakikat Kalimat Tauhid

Kalimat “laa ilaha illalloh Muhammadur Rosululloh” diucapakan dengan lidah menjadi dzikrulloh. Kalimat “laa ilaha illalloh Muhammadur Rosululloh” dimasukan ke dalam hati jadi cahaya ...