Aqidah Ahlak

Takbir Hati Sebelum Lisan

0

Sebuah karunia yang besar dari Allah ketika umat Islam menyelesaikan ibadah sebulan penuh. Bulan suci yang penuh ampunan dan rahmat, kasih dan sayang, kedamaian dan kesejahteraan.
Berangkat dari sebuah hadist:

للصائم فرحتان فرحة حين يفطر وفرحة حين يلقى ربه

“Bagi orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka, dan kegembiraan ketika bertemu dengan tuhannya ” HR. Muslim dan Ahmad

Dengan datangnya hari Iedul Fitri, maka Allah swt telah mengumpulkan dua kegembiraan tersebut. Sehingga, Allah swt mensyariatkan sholat Ied, serta Allah haramkan puasa pada hari tersebut agar manusia mendapatkan pahala dengan pahala yang kedudukannya menyamai pahala wajib, yaitu dengan mentaati peraturan yang mengikat dirinya dan tidak bisa diganggu gugat, demi mendapatkan pahala yang besar (Ibnu Arobi, Al Futuhatul Makkiyyah, hal 144, vol III)

Penamaan hari tersebut dengan hari Ied bukan karena berulang pada setiap tahunnya. Tetapi karena seorang hamba di hari tersebut semua perilakunya adalah perilaku seseorang yang dalam keadaan sholat. Artinya, keadaan sholat itu selalu kembali kepada dirinya dalam perbuatan-perbuatannya. Perilaku mubah yang ia lakukan menjadi berbuah pahala seperti pahala yang didapatkan ketika melaksanakan sholat, karena berangkat dari niat yang tulus dan murni, sebagaimana yang diuraikan oleh Imam Ibnu Arobi. (Ibid) Sehingga dirinya menjadi cermin dari sholat itu sendiri, ucapan yang mengandung laghwu dan lahwu (permainan dan kelalaian) dinafikan dari dirinya, karena dalam sholat tidak diperkenankan berbicara, dst.

Takbir dikumandangkan semenjak malam Ied, untuk menunjukkan kebesaran Allah. Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu akbar. Lalu apa tujuan takbir ? Terutama di malam-malam takbiran yang dikumandangkan di seantro dunia?

Imam Muhyiddin Ibnu Arobi Ath Tho’i Al Hatimi di dalam Al Futuhat (147/3), menjawab pertanyaan tersebut, “Penambahan takbir di dalam hari raya ied yang melebihi takbir-takbir di dalam sholat adalah memberikan indikasi tentang urusan yang lebih dari sekedar kandungan nama (ied) itu sendiri. Karena kata tersebut ialah dari kata (‘audah) yang berarti kembali, maka takbirpun selalu dikembalikan (diulang-ulang), dan diulang-ulanglah keagungan dan kesombongan Allah swt.”

Jika yang disebut dan diulangi ialah kesombongan dan keagungan Allah, maka apalah artinya kebesaran dan kesombongan manusia?. Sehingga yang timbul dari takbir tersebut ialah rasa tawadhu’, rendah hari, merasa dirinya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, apalagi merasa lebih baik dari orang lain yang setatusnya di sisi Allah kita tidak ketahui. Karena di alam semesta ini yang berhak sombong, takabbur dan merasa besar hanyalah Allah.

Mengapa dengan takbir, justru bukan tawadhu’ yang dirasa, malah kesombongan yang didapat??

Abdul Aziz Jazuli, Lc
22 Mei 2020

Ais Banten

Sayyidah Khodijah Istri Setia Yang Dirindukan Surga

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Aqidah Ahlak

SANTRI ERA BARU DI ZAMAN MILENIAL

Oleh: Abdul Aziz Jazuli, Lc Santri merupakan sebutan bagi seseorang yang tinggal di pesantren dan mengikuti pendidikan agama di sana. Biasanya seorang santri ...

Kenapa Wanita Harus Cantik Luar Dalam?

Wanita adalah mahluk Allah yang diciptakan mulia. Wanita adalah mahluk yang dimudahkan masuk surganya dan dimudahkan juga masuk nerakanya. Menjadi wanita bukan hanya ...

Hakikat Kalimat Tauhid

Kalimat “laa ilaha illalloh Muhammadur Rosululloh” diucapakan dengan lidah menjadi dzikrulloh. Kalimat “laa ilaha illalloh Muhammadur Rosululloh” dimasukan ke dalam hati jadi cahaya ...

Tulisan Apapun Kelak Akan Dihisab

Oleh: Ust. Muh. Raudho, S,Pdi. Tulisan apapun akan dihisab kelak. Ghibah atau mengunjing pemerintah hukumnya haram yaitu seorang rakyat suka menghujat, menebar hoak, ...