Aqidah AhlakKeislaman

Ulama Matic & Manual

0

Model mesin saat ini, baik motor atau mobil terdapat dua macam. Yaitu matic dan manual. Yang pertama tanpa harus repot-repot menaik-turunkan gigi. Dan yang kedua harus menaik-turunkan gigi ketika sedang berjalan. Dan macamnya ulama dapat dikatakan seperti itu.

Ada ulama yang strategi dakwahnya matic, yaitu yang dapat menyesuaikan zamannya, mengetahui langkah cerdas apa yang harus diambil, tanpa harus berteriak kesana-kemari dengan sebuah statmen atau gagasan, tetapi peranan dan pengaruhnya sangat terasa di kalangan masyarakat dan pemerintahan.

Sementara yang kedua walaupun berteriak dan bersikap keras, tetapi pengaruhnya tidak begitu terasa dan malah sering menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Bahkan tidak jarang mengobral fitnah ke sana ke mari. Dan justru yang terasa ialah kesan yang tidak baik dan negatif. Entah nilai-nilai spiritualnya tidak meresap ke dalam jiwanya atau karena sebab lain, hanya Allah yang maha mengetahui.

Pada dasarnya, sebagai manusia biasa, kita hanya bisa menilai dari sisi dhohir. Karena urusan batin bukan menjadi urusan kita “Nahnu nahkumu bodh dhowahir, wallahu yatawallas saro’ir”, sebagaimana ungkapan dari banyak ulama.

Tulisan-tulisan sebelumnya, sedikit banyak membahas tentang sosok Imam Abdul Wahhab Al Sya’roni yang kajiannya tidak ada habis-habisnya. Karena beliau merupakan tokoh yang produktif dalam menyusun karya-karyanya yang tidak membosankan. Tapi penulis akan membahas dua karya beliau. Yang pertama: “Al Mizanul Kubro” buku fiqih perbandingan bernuansa tasawwuf, dan yang kedua adalah “Latho’iful Minan” yang merupakan catatan spiritual atas kehidupan pribadi beliau.

Untuk yang pertama, walaupun pembahasannya tidak secara spesifik mengarah kepada pembagian ulama menjadi matic dan manual. Tetapi secara tersurat ia mengarah kepada hal tersebut. Dan inilah teksnya:

أن تعلم وتتحقق يقينا جازما أنّ الشريعة المطهرة جائت من حيث شهود الأمر والنهي في كل مسألة ذات خلاف بين مرتبتين تخفيف وتشديد لا على مرتبة واحدة كما يظنّه بعض الناس.

“Hendak kau ketahui dengan keyakinan yang pasti bahwasannya syariat yang suci ini datang dari penyaksian perintah dan larangan di setiap permasalahan yang mengandung perbedaan pendapat itu berada dalam dua tingkatan: meringankan dan memberatkan, bukan dalam satu tingkatan saja seperti yang diklaim oleh sebagian orang” [Al Mizanul Kubro, Syeh Abdul Wahhab Al Sya’roni, hlm 4, vol I]

Dengan ini kita memahami bahwa syariat Islam itu berisi tentang ajaran yang ringan dan ajaran yang berat, disesuaikan dengan obyeknya. Jika memiliki kesiapan untuk berlaku keras, berat dan tegas, maka dipersilahkan untuk menggunakannya. Tetapi jika sebaliknya, maka jangan sekali-kali menempatkan segala sesuatu bukan pada porsinya. Dan ulama pun seperti itu, jika ia dapat menempatkan segala sesuatu sesuai porsinya, maka ia dapat dikategorikan sebagai ulama matic. Tidak perlu ia berkoar-koar, lebih-lebih jika koarannya ini tidak memiliki efek positif bagi masyarakat, atau pemerintah sekalipun.

Akan penulis kutipkan bagaimana sikap Syeh Abdul Wahhab Al Sya’roni ketika bertemu dan bersikap pemerintah yang beliau nilai sebagai pemerintahan yang dholim. Beliau uraikan di dalam karyanya “Latho’iful Minan”:

ومما من الله تبارك وتعالى عليَّ: حفظي للأدب مع السلطان ونوابه، فلا أعترض عليهم في فعل ما هو ملازمهم عادة دولي، بل أبتكر لهم المحامل الحسنة في الشريعة والأجوبة المسكتة، ولا أجيّش عليهم بالعوام في هدم كنيسة أو بيعة أقروا اليهود والنصارة عليهما.

“Dan di antara anugrah yang Allah swt berikan kepadaku ialah aku dapat menjaga adab dengan sultan (pimpinan negara) dan penajabat-pejabatnya. Aku tidak protes kepada mereka untuk mengerjakan pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan menurut tradisi di negaraku. Tetapi aku menciptakan arahan-arahan yang baik dalam syariat, dan jawaban-jawaban yang menyejukkan. Aku tidak mengumpulkan masa dari kalangan awam untuk melawan mereka dalam penghancuran gereja atau sinagog yang diakui oleh negara atas kalangan Yahudi dan Nashrani.” [Latho’iful Minan, Abdul Wahhab Al Sya’roni, hlm 646]

Bisa kita rasakan bagaimana sikap seorang tokoh sufi, ulama dhohir dan bathin dalam bersikap kepada pemerintah. Beliau tidak bringas, keras, dan tidak suka berkoar-koar; karena beliau lebih faham bagaimana harus bersikap dalam menghadapi pemerintah. Karena solusi yang diberikan lebih berefek, lebih cerdas dan lebih terasa manfaatnya jika dibandingkan dengan mengumpulkan masa untuk memprotes pemerintah untuk melakukan suatu langkah. Hal ini adalah langkah cerdas ulama sebagai pewaris para Nabi. Lebih memahami langkah mana dan apa saja yang harus diambil. Sebagai cerminan dari “ulama matic”, bukan “ulama manual” yang gerak-geriknya terasa keras dan tidak membuat nyaman.

(Abdul Aziz Jazuli, Ais Banten)

Ais Banten

Apakah Daging Ulama Beracun?

Previous article

Ada Cinta di Pekalongan

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Aqidah Ahlak

Apakah Daging Ulama Beracun?

Oleh: Abdul Aziz Jazuli Apa Benar Daging Ulama Beracun? Siapa yang tau keagungan ulama? Terlalu banyak teks ayat dan hadist yang menerangkan keutamaan ...

SANTRI ERA BARU DI ZAMAN MILENIAL

Oleh: Abdul Aziz Jazuli, Lc Santri merupakan sebutan bagi seseorang yang tinggal di pesantren dan mengikuti pendidikan agama di sana. Biasanya seorang santri ...

Kenapa Wanita Harus Cantik Luar Dalam?

Wanita adalah mahluk Allah yang diciptakan mulia. Wanita adalah mahluk yang dimudahkan masuk surganya dan dimudahkan juga masuk nerakanya. Menjadi wanita bukan hanya ...

Hakikat Kalimat Tauhid

Kalimat “laa ilaha illalloh Muhammadur Rosululloh” diucapakan dengan lidah menjadi dzikrulloh. Kalimat “laa ilaha illalloh Muhammadur Rosululloh” dimasukan ke dalam hati jadi cahaya ...