FiqihKeislaman

Bagaimana memenuhi puasa nadzar?

0

Soal : seorang perempuan menginginkan rezeki untuk dirinya dan ia berkata: jika terpenuhi maka aku akan puasa satu hari dan satu harinya lagi berbuka selama masa dua tahun. Dan Allah mengabulkan permintaannya. Ia kemudian melaksanakannya selama lima bulan sepuluh hari. Sehari berpuasa dan satu harinya berbuka, selain hari-hari haidh. Setelah itu ia sakit dan tidak mampu melaksanakan puasa, maka ia berbuka selama seminggu kemudian melanjutkan puasa. Tetapi terputus-putus dua hari puasa dan dua hari berbuka, berpuasa dua hari dan berbuka tiga hari, dan seterusnya. Apakah ia wajib mengqodho’ hari-hari yang telah lewat? Atau membayar kaffaroh sebagai ganti puasa jika ia tidak mampu melaksanakannya?

Jawab: Alhamdulillah, jika ia bernadhar demikian dan melafalkannya, maka itu adalah Nadhar yang wajib dipenuhi. Karena firman Allah:

يا أيها الذين آمنوا أوفوا بالعقود

“Wahai orang-orang yang beriman penuhilah akar-akar” (Al Maidah : 1)

Dan firman Allah tentang sifatnya orang-orang mukmin:

يوفون بالنذر ويخاف يوما كان شره مستطيرا

“Mereka memenuhi Nadhar, ia takuti hari yang keburukannya beterbangan” (Al Insan : 7)

Di hari-hari tersebut ia wajib untuk mengqodho’ hari-hari yang ditinggalkan puasanya, atau keteledorannya dengan hari-hari yang lain sesuai bilangan yang ditinggalkan. Sebagaimana firman Allah:

فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر

“Barang siapa dari kalian yang sakit atau dalam perjalanan maka (menggantinya) pada bilangan hari-hari yang lain” (Al Baqoroh: 184)

Nadhar itu hukumnya sama , tidak ada perbedaan. Hukum kaffaroh tidak sah di dalam keadaan seperti ini kecuali dalam kondisi dimana kaffaroh diperbolehkan pada puasa Ramadhan. Yaitu dalam keadaan lemah yang utuh untuk melaksanakan puasa, seperti lansia laki-laki dan perempuan, orang sakit parah yang kesembuhannya tidak diharapkan. Adapun orang yang selain itu (di dalam dua keadaan itu) maka kaffarohnya tidak sah.

Adapun jika angan-angan/keinginan tersebut adalah azm yang berada di dalam hati, dan nadharnya tidak berlaku kecuali di dalam hati, maka puasa tersebut tidak wajib dilaksanakan. Karena Nadhar yang berlaku adalah Nadhar yang diucapkan. Adapun azm yang ada di dalam hati, itu hanyalah janji yang tidak wajib dilaksanakan di madzhab kita, jika ia ingin melaksanakannya dipersilahkan, jika tidak maka tidak masalah.

Ais Banten

Remaja Islam Cipacung Siap Sukseskan Festival Ramadhan 2019

Previous article

Mengqodho Puasa Romadhon di Hari Jum’at

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Fiqih

Zakat Fitrah Dengan Uang dan Kepada Guru Ngaji

Rutinitas tahunan yang selalu menjadi perdebatan yang tidak berujung. Ialah mengeluarkan zakat dengan uang. Apakah diperbolehkan atau tidak?. Mungkin kita sudah mengetahui bahwa ...

Hukum membatalkan puasa bagi yang Sakit

Soal: Saya seorang perempuan yang mengidap sakit kepala, dan kondisi saya semakin parah di bulan Ramadhan. Yaitu jika berpuasa maka banyak rasa sakit ...

Mengqodho Puasa Romadhon di Hari Jum’at

S: Jika wajib atas seseorang untuk melakukan qodho’ puasa Ramadhan dan tidak menemukan kesempatan kecuali hari Jumat seperti orang-orang yang berprofesi menjadi tentara, ...

Bagaimana Hukum Kudeta Dalam Perspektif Islam?

Oleh: Abdul Aziz Jazuli, Lc. Agama Islam adalah agama yang sangat kompleks. Jangankan permasalahan yang menyangkut permasalahan personal, masalah ketata-negaraan juga dibahas dalam ...