FiqihKeislaman

Hukum Muslim Mengucapkan Selamat Natal

4

Oleh: Abdul Aziz Jazuli, Lc (Ais Banten, Wasek LBM PWNU BANTEN)

Ada satu masalah yang perlu diuraikan untuk khalayak ramai. Apalagi masalah itu sudah menjadi rutinitas tahunan di Indonesia, bahkan di dunia. Yaitu terkait masalah mengucapkan hari Natal bagi seorang muslim kepada non-muslim.

Masalah ini diangkat, karena aktual dan sering terjadi perdebatan di antara sesama kaum muslim, sehingga terjadi saling tuding dan menyalahkan antara satu dengan yang lain.

Minoritas muslim yang hidup dikalangan non-muslim, tentunya mempunyai hukum yang spesifik, khusus dan berbeda sama sekali dengan mayoritas muslim yang hidup di Negara muslim. Mereka tentunya kurang leluasa untuk menjalankan aktifitas keagamaannya.

Tentunya kehidupan muslim minoritas akan berbaur dengan masyarakat non-muslim. Dan mereka sudah selayaknya menyesuaikan diri dengan masyarakat non-muslim, selagi tidak keluar dan bertentangan dengan rambu-rambu syariat dan tidak merobohkan pondasi-pondasinya.

Hari-hari besar non-muslim yang dirayakan, seperti hari Natal sudah umum di kalangan kita. Bagaimanakah peran seorang muslim apakah mereka mendapatkan keringanan atau rukhsoh untuk memberi ucapan Natal?

Ulama-ulama klasik dari madzhab syafi’iyah muta’akhirin menilai bahwa hal tersebut merupakan maksiat, dan pelakunya berhak di takzir (dihukum) oleh Imam (penguasa); karena hal tersebut memperkuat syiar-syiar agama non Islam, dan memperburuk citra agama Islam.

Hal ini dituliskan oleh ulama muta’akhirin dari madzhab Syafi’i. Diantaranya, Al-Romli Al-Kabir, dan Al-Khotib Al-Syirbini [Mughni Al-Muhtaj, Al-Khotib Al-Syirbini, hal 526 jilid 5. Hasyiyah Asna Al-Matholib, Al-Romli Al-Kabir, hal 162, jilid IV].  

Sementara, dari ulama hanabilah sudah ada larangan dari salah satu tokoh mereka, Ibnu Al-Qoyyim, misalnya. Menurutnya, jika di dalam ucapan selamat itu ada unsur kekafiran maka pelakunya bisa terjerat dalam kekafiran. Jika tidak, maka paling tidak hal itu adalah sebuah perlakuan haram, dan hal ini sudah disepakati oleh ulama (al-ijma’); karena di dalamnya ada syiar kekufuran [Ahkam Ahl Al-Dzimmah, Ibn Al-Qoyyim, hal 441.].

Jangankan dengan hanya mengucapkan selamat natal kepada mereka, guru Ibn Al-Qoyyim yaitu Ibn Taimiyyah ternyata lebih keras daripada dirinya. Beliau mengklaim bahwa seseorang yang memakai pakaian yang biasa digunakan oleh non-muslim adalah sebuah perbuatan haram yang harus dihindari [Iqhtodho’ Al-Shiroth Al-Mustaqim, Ibn Taimiyah, hal 50 jilid 2.].

Dan argument yang digunakan adalah adanya mafsadah yaitu takut terjerat kedalam cabang-cabang kekufuran (sad adz-dzaro’i’), yang kehujjahannya masih menjadi pertentangan di madzhab-madzhab yang ada.

Tentunya, kita membutuhkan kajian yang spesifik dan mendalam tentang lingkungan dimana mereka (ulama-ulama yang disebutkan diatas) berada.

Al-Syarif Hatim Arif Al-Auni -salah satu pakar hadist terkemuka di Arab Saudi- mengemukakan pendapatnya di salah satu seminarnya bahwa, hubungan masyarakat muslim dan nonmuslim waktu itu tidaklah harmonis; karena terjadi perang dan konflik yang berkepanjangan sehingga ada rasa kebencian yang mendalam dan menancap begitu dalam di dalam hati mereka.

Beliau juga menuliskan masalah ini di salah satu website miliknya. Bahwa ijma’ yang menjadi argument perihal haramnya hal ini adalah perlu dikaji kembali dakwa Ijma’ (klaim ijma’).  

Bukan berarti penulis sangat mengagungkan non-muslim di dalam hati -na’udzubillah min dzalik- akan tetapi keharmonisan di dalam masyarakat muslim sangatlah dibutuhkan. Apalagi di dalam masyarakat yang kompleks seperti Indonesia.

Penulis tidak mutlak memperbolehkan mengucapkan selamat Natal begitu saja tanpa syarat, akan tetapi jika ucapan tersebut dibutuhkan; karena mereka adalah saudara dekat, atau sahabat karib. Dan jika kita tidak memberi mereka selamat mereka akan kecewa ataupun berkecil hati, maka tidak ada salahnya jika diperbolehkan. Tentunya dengan tidak meyakini bahwa Hari Natal adalah hari kelahiran tuhan mereka, akan tetapi hari kelahiran nabi kita yang diutus sebelum Rasulullah saw. Kalau memang yang lahir adalah Nabi Isa as. Maka apa salahnya jika kita ikut bergembira? Menurut penuturan Habib Umar bin Hafidz di dalam seminar bedah bukunya yang berjudul “Islam Moderat (al-wasathiyyah fi al-islam)” [Acara tersebut diadakan di aula gedung pertemuan Universitas al-ahqof, tanggal 20 Desember 2013 M. dihadiri oleh para mahasiswa Universitas tersebut dan santri-santri Darul Musthofa.]  

Pandangan Ibnu Bayyah (Ulama kenamaan Asal Mouritania) tidak jauh dengan yang diuraikan di sini. Hanya saja beliau pada awalnya menyebutkan satu ayat dan dua hadist untuk memperkuat pendapatnya. 

Ayat itu berbunyi:

{لَا يَنْهَاكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8)} [الممتحنة: 8]

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak  memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” [QS: Al-Mumtahanah: 8].

Di dalam ayat ini terdapat motivasi untuk berlaku adil dalam hal apapun dan kepada siapapun; karena sifat adil juga termasuk sifat Allah swt. Dan suatu kewajiban yang harus dijunjung oleh seorang muslim kepada seluruh umat manusia. 

Dan hadist nabi saw. yang diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi di dalam Kitab Al-Jami’, dari Abu dzar ra. Rasulullah saw berkata kepadaku:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kamu di manapun kamu berada, dan ikutilah kejelekan dengan perbuatan yang baik niscaya akan menghapusnya (kejelekan-kejelekanmu), dan rangkullah manusia dengan akhlak yang baik.” [HR. At-Tirmidzi]

Sudah barang tentu, nonmuslim pun termasuk kategori “al-naas (manusia)”; karena, kata tersebut mencakup muslim dan non-muslim, kecil ataupun besar, tua ataupun muda, dikeadaan apapun, suka atau sedih.

Kita pasti ingat dengan sebuah adagium ushul fiqh yang biasa digunaan oleh para pakar ushul fiqh, dan berbunyi: “Umum al-asykhos yastalzimu umum al-ahwal wa al-azminah wa al-biqo’ (keumuman individu menetapi keumuman keadaan, zaman, dan tempat).” Dalam arti: jika ada sebuah kata yang umum (general) dalam salah satu teks syar’i, maka keumuman tersebut juga mencakup semua keadaan, waktu dan tempat. Oleh karenanya, penulis katakana bahwa perintah berperilaku baik itu mencakup semua golongan manusia, baik yang muslim ataupun non-muslim. Dan sejumlah dari perlakuan baik itu adalah mengucapkan selamat kepada mereka jika ada munasabah atau acara-acara penting seperti perkawinan, kelahiran, kematian dan lain sebagainya.

Apakah kita lupa akan penulisan fuqoha’, di dalam Bab Al-Jana’iz (yang berkaitan dengan hukum-hukum orang meninggal), bahwa disunnahkan bagi seorang muslim untuk bertakziah (bela sungkawa) kepada sesama, muslim dan kafir. Disana tertulis jelas. Dan hal ini dapat diqiaskan (dianalogikan) dengan mengucapkan selamat Natal kepada non-muslim.

Ada beberapa hadist yang diriwayatkan olen Imam Al-Bukhori dalam Al-Adaab Al-Mufrod-nya (bukan di Kitab Shohih-nya) dengan sanad yang hasan (menurut pendapat al-Syarif Hatim Al-Auni di website pribadinya): Dari Uqbah bin Amir ra, bahwa beliau pada suatu hari melewati seorang nashroni yang pribadi dan pakainya mirip seperti seorang muslim, beliau kemudian mengucapkan salam kepadanya: “al-salamu alaikum warohmatu allahi wa barokatuh). Salam itupun dijawab oleh nashroni tersebut. Tak lama kemudian, ada seorang budak yang memberitahukan kepadanya, apakah engkau tak tau kalau orang yang engkau salami adalah seorang nashroni??? Beliau jawab: “tidak”. Kemudian beliau menyusulnya dan mengakatakan kepadanya: “Sesungguhnya rahmat dan berkah Alllah hanya diperuntukkan kepada orang yang beriman. Akan tetapi semoga Allah memanjangkan umurmu dan memperbanyak harta dan anakmu (lakin Atholahhahu umroka wa aktsaro malaka wa waladaka)”.

Dan Imam Bukhori di dalam Al-Jami’ Al-Musnad-nya yang populer dengan nama Al-Shohih-nya, juga meriwayatkan atsar dari Abdullah bin Abbas ra: “Seandainya Firaun berkata kepadaku: semoga Allah memberkahimu. Maka akan kujawab: Engkaupun demikian, sedangkan dia sudah meninggal. (lau qola lii Firaun: baroka allahu fiika. Laqulutu: wa fiika, wa firaunu qod maata)”.

Dari dua kisah ini, bagaimana fiqh para sahabat yang sangat luwes dan plural dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam. Kisah yang pertama, bagaimana sahabat Uqbah bin Amir mendoakan seorang nashroni dengan memperpanjang umur dan banyak harta dan anak?. Dan kisah yang kedua bagaimana sikap Ibnu Abbas jika didepannya ada sosok sekaliber Firaun yang sudah tidak diragukan lagi kekafirannya dan ahli neraka, akan tetapi jika seandainya dia mendoakan berkah maka akan dibalas dengan doa.

Kedua kisah ini menggambarkan sebenarnya tidak ada masalah jika seorang muslim dengan doa seperti itu. Bagaimana dengan hanya mengucapkan selamat Natal kepada saudara atau teman dekat. Apalagi jika kalau kita meyakini bahwa yang lahir adalah Nabi Isa as.

Dari sini, penulis merumuskan bahwa hukum asal dalam per-masalahan mengucapkan selamat kepada nonmuslim di hari-hari besar mereka adalah BOLEH atau al-jawaz, kecuali atas dasar ridho, rela dengan agama mereka.

Imam Sirojuddin Al-Bulqini, (imam besar dan mujaddid pada kurun ke 8 H, hampir disepakati bahwa beliau ini adalah sosok seorang mujtahid, w. 805 H) di dalam Kitab Fatwa-nya, menanggapi sebuah pertanyaan, jika seorang muslim mengucapkan kepada nonmuslim: “semoga hari rayamu diberkahi (ied mubarok)” apakah kafir atau tidak?. Beliau menjawab: jika dia bertujuan mengagungkan agama dan hari peringatan mereka maka kafir hukumnya, jika tidak dan hanya terucapkan oleh lisan mereka, tidaklah apa-apa hukumnya [Fatawa Al-Bulqini, Sirojuddin Al-Bulqini, hal 986.]. 

Guru penulis Al-Habib Abdullah Bin Muhammad Baharun, juga memperkenankan pengucapan “Selamat Hari Natal” atau yang lainnya; karena hal itu masuk dalam kajian membalas kebaikan dengan kebaikan (Al-Tabadul Bi Al-Mitsl). Kecuali jika dengan niatan keluar dari ajaran Islam dan ingin mengeluarkan muslimin dari agama mereka, maka hal ini tidak diperbolehkan dan diharamkan [Tuhfah Al-Albab Fi Jawab Asilah Buya Yahya Wa Al-Ashhab, hal 56.]. 

Dari sini, betapa jelaslah bahwa hal yang diperdebatkan disana-sini, sebenarnya tak usah dibuat geger atau rame. Karena cukuplah kita intropeksi dengan kisah-kisah dua sahabat diatas, akan kita fahami bahwa hal-hal yang banyak diperdebatkan itu adalah boleh hukumnya.” Cinangka, 22 Desember 2018

Kamar Surga Untuk Abuya

Previous article

Banser Serahkan Bantuan Korban Tsunami

Next article

You may also like

4 Comments

  1. Luar biasa yai….

  2. Allah. nuhun teh

  3. Mantap…. ustad

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Fiqih

Mengqodho Puasa Romadhon di Hari Jum’at

S: Jika wajib atas seseorang untuk melakukan qodho’ puasa Ramadhan dan tidak menemukan kesempatan kecuali hari Jumat seperti orang-orang yang berprofesi menjadi tentara, ...

Bagaimana memenuhi puasa nadzar?

Soal : seorang perempuan menginginkan rezeki untuk dirinya dan ia berkata: jika terpenuhi maka aku akan puasa satu hari dan satu harinya lagi ...

Bagaimana Hukum Kudeta Dalam Perspektif Islam?

Oleh: Abdul Aziz Jazuli, Lc. Agama Islam adalah agama yang sangat kompleks. Jangankan permasalahan yang menyangkut permasalahan personal, masalah ketata-negaraan juga dibahas dalam ...