FiqihKeislaman

Zakat Fitrah Dengan Uang dan Kepada Guru Ngaji

0

Rutinitas tahunan yang selalu menjadi perdebatan yang tidak berujung. Ialah mengeluarkan zakat dengan uang. Apakah diperbolehkan atau tidak?. Mungkin kita sudah mengetahui bahwa di dalam madzhab syafi’i dan mayotiras ulama tidak memperbolehkannya. Tetapi saya ingin membahas tentang maqosid syari’ah (rahasia-rasia syari’at) tentang zakat fitrah dan mengapa zakat fitrah dipriotitaskan untuk diberikan kepada fakir-miskin?

Pada poin yang pertama: zakat dan kaffaroh memang memiliki banyak tujuan. Di antaranya adalah:

(1) mencukupkan kebutuhan kepada yang membutuhkannya, terkadang memberi berupa harta, hewan ternak, bahan pokok, pakaian dan lain sebagainya. Sehingga ia memang diberi dengan berbagai warna, tidak dalam satu jenis.

(2) membiasakan diri untuk menjadi dermawan, agar tidak terbiasa menjadi orang yang kikir. Sebagian orang dermawan dalam semua makanan, tapi tidak dengan daging, misalnya. Sebagian yang lain dermawan dalam semua hal, tapi tidak dengan pakaian. Maka Islam mengajarinya agar tidak manjadi orang yang pelit lagi kikir.

Maka dengan ini, kita harus mengetahui hikmah dari teks syariat tentang zakat fitrah ini. Bahwa yang disebutkan adalah makanan dengan berbagai fariasinya. Adalah memberikan kebutuhan kepada kalangan faqir dan miskin.

Berangkat dari hadist:

أغنوهم عن السؤال في هذا اليوم

“cukupkanlah mereka dari meminta-minta pada hari ini”

Syeh Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq Al Gumari dalam karyanya “tahqiqul amal” menguraikan maksud dari hadist tersebut yaitu: “al-ghina artinya adalah menemukan hajat yang dibutuhkan oleh seseorang. Sebagaimana kebutuhan seseorang kepada makanan, ia juga membutuhkan pakaian. Dan terkadang orang fakir itu memiliki makanan untuk hari raya, tetapi ia masih membutuhkan pakaian atau hal-hal lain yang masuk dalam kebutuhan primer. Dan mengeluarkan uang sebagai zakat fitrah dapat memenuhi kebutuhannya dari segala sisi, dan itulah yang dimaksud dengan al-ghina yang diperintahkan oleh syari’at”. [Tahqiqul Amal, halaman 99].

Maka dengan ini, dapat kita simpulkan bahwasannya mengeluarkan zakat baik dengan beras atau dengan uang, memiliki porsi yang sama dalam menjalankan syariat Islam. Terlebih jika memandang kemaslahatan, maka menggunakan uang itu lebih maslahat bagi kaum faqir dan miskin dalam masalah zakat fitrah.

Dari ulama madzhab syafii memang ada yang memperbolehkannya tapi dalam kondisi tertentu. Ialah Imam Syihabuddin Ar Romli di dalam fatwanya beliau menyatakan:

وَهَلْ إذَا لَمْ يَجِدْ الْمَرْءُ قَمْحًا فَقَلَّدَ مَذْهَبَ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ النُّعْمَانِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَخْرَجَ دَرَاهِمَ يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ ثُمَّ إنَّهُ بَعْدَ ذَلِكَ لَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يُخَالِفَ مَذْهَبَهُ فِي الْعِبَادَاتِ أَوْ لَا ؟ يَجُوزُ فِيهَا لِلْمَرْءِ الْمَذْكُورِ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ أَبِي حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي إخْرَاجِ بَدَلِ الزَّكَاةِ دَرَاهِمَ وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يُقَلِّدَهُ فِي غَيْرِ ذَلِكَ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .

“Apakah seseorang ketika tidak menemukan gandum, kemudian ia bertaklid kepada imam Abu Hanifah dan mengeluarkan zakat fitrah berupa uang? Kemudian setelah itu apakah tidak boleh menyalahi madzhabnya baik dalam ibadat ataupun yang lain?. Syeh Syihabudin Ar Romli menjawab: orang itu diperbolehkan bertaklid kepada imam Abu Hanifah dalam hal mengganti zakat fitrah dengan uang, dan ia tidak berkewajiban untuk mengikuti madzhab Abu Hanifah di selain masalah itu” [Fatawa Romli, hal 55, vol II].

Sehingga dengan ini permasalan di atas sudah clear, dan bagi umat Islam, dipersilahkan untuk memilih antara mengeluarkan zakat fitrah dengan beras/makanan pokok, atau dengan uang? Dan mengeluarkan zakat dengan uang, tentunya lebih bermanfaat bagi kaum fakir dan miskin. Lantas, bagaimana dengan sebagian masyarakat yang memberikan zakatnya kepada tokoh-tokoh agama, baik ustadz atau kyai yang membimbing masyarakat. Apakah zakat tersebut dianggap sah atau tidak?

Dilihat terlebih dahulu, apakah status kyai atau ustadz yang diberi zakat itu adalah tergolong fakir atau miskin di kalangan masyarakat? jika tergolong, maka tidak ada masalah. Tapi jika tidak, ternyata ada perselisihan pendapat menganai hal itu.

Dan pendapat yang saya gunakan adalah boleh. Karena pemaknaan “sabilillah” dengan para prajurit yang berperang, untuk saat ini sudah tidak dan jarang ditemui. Sehingga, penghapusannya dalam hukum Islam, tidaklah layak. Maka, pemaknaan sabilillah dengan segala jalur yang mengarah kepada Allah swt (jami’ wujuhil khoir) dengan makna yang lebih luas, tidak menjadi soal. Walaupun di kutip dalam beberapa tafsir seperti tafsir Ar Rozi, Tafsir Al Khozin dan Tafsir Al Munir (tafsir Syeh Nawawi Banten), saya rasa itu cukup untuk menjadi contoh bahwa memberikan zakat fitrah kepada para ustadz, kyai, atau guru ngaji tidak jadi soal dan dikatakan sah. Terlebih lagi di kampung-kampung bahwa yang biasanya mengajar ngaji atau mengajar di madrasah biasanya mereka tidak mendapatkan gaji. Maka apa salahnya jika memberikan zakat fitrah kepada mereka, terlebih lagi bahwa jumlah zakat yang mereka dapatkan tidak seberapa. Kaidah yang ditetapkan di dalam Islam adalah: “permudahlah segala urusan, dan jangan dipersulit”.

Abdul Aziz Jazuli, Lc

Purwodadi, 30 Romadhon 1440 H

Ais Banten

Pupuk Kebersamaan, Remaja Islam Cipacung 2 Sukses Gelar Bukber dan Santunan Anak Yatim

Previous article

Netralisir Kesedihan Dengan Doa

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Fiqih

Hukum membatalkan puasa bagi yang Sakit

Soal: Saya seorang perempuan yang mengidap sakit kepala, dan kondisi saya semakin parah di bulan Ramadhan. Yaitu jika berpuasa maka banyak rasa sakit ...

Mengqodho Puasa Romadhon di Hari Jum’at

S: Jika wajib atas seseorang untuk melakukan qodho’ puasa Ramadhan dan tidak menemukan kesempatan kecuali hari Jumat seperti orang-orang yang berprofesi menjadi tentara, ...

Bagaimana memenuhi puasa nadzar?

Soal : seorang perempuan menginginkan rezeki untuk dirinya dan ia berkata: jika terpenuhi maka aku akan puasa satu hari dan satu harinya lagi ...

Bagaimana Hukum Kudeta Dalam Perspektif Islam?

Oleh: Abdul Aziz Jazuli, Lc. Agama Islam adalah agama yang sangat kompleks. Jangankan permasalahan yang menyangkut permasalahan personal, masalah ketata-negaraan juga dibahas dalam ...