FiqihKeislaman

Zakat Fitrah Menggunakan Uang?

0

Zakat Fitrah adalah sebuah kewajiban bagi sesorang sebelum datangnya hariraya Iedul Fitri. Waktu wajibnya adalah malam Iedul Fitri, ketika seseorang baik yang sudah dewasa, anak-anak, walaupun masih bayi.
Biasanya, para muslimin membayar Zakat Fitrah dengan beras atau makanan pokok lainnya. Dan bagaimana jika ada yang membayar zakat menggunakan uang sebagai pengganti dari makanan pokok?

Sebelum menjawabnya, harus kita ketahui terlebih dahulu hikmah dari zakat fitrah yang wajib itu. Di dalam zakat fitrah ada beberapa hikmah, di antaranya:

  1. Zakat fitrah sebagai penyuci bagi yang berpuasa dari kesalahan atau dosa yang dilaksanakan sewaktu berpuasa.
  2. Membahagiakan dan berbagi kebahagiaan kepada fakir miskin dengan memberikan sebagian kebutuhannya di hari raya. Karena dalam sebuah hadist, Rasulullah saw bersabda:

أغنوهم في هذا اليوم

“Cukupilah mereka (fakir dan miskin) di hari ini.” HR Baihaqi & Daroquthni.

Ketika sudah diketahui maksud dan tujuan dari zakat fitrah, maka langkah yang diambil selanjutnya adalah “Apa kebutuhan mereka yang paling dibutuhkan?” Tentu dengan membandingkan antara dua hal: beras atau uang ?
Jika yang lebih mereka butuhkan adalah beras, maka sebaiknya yang dibayarkan adalah beras. Dan jika yang lebih dibutuhkan adalah uang, maka uanglah yang harus dibayarkan.

Memang dalam pembayaran zakat fitrah dengan uang, masih menjadi perselisihan ulama mengenai status boleh tidaknya. Maka, akan diulas sedikit di sini tentang siapa saja ulama yang memperbolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang.

Bolehnya membayar zakat fitrah dengan uang adalah pendapat para sahabat dan tabi’in, Imam Hasan al Bashri, Umar bin Abdul Aziz, Sufyan Al Tsauri, Abu Hanifah dan Abu Yusuf, dan aabu Ja’far At Thohawi. Fatwa dan amal didasarkan pada hukum ini dalam berbagai permasalahan, di antaranya: dalam zakat, kaffaroh, nadzar, dsb. (Tahqiqul Aamal, Al Ghumari, hal 45) Juga dari madzhab Maliki, seperti: Ibnu Habib, Ashbagh, Ibnu Abi Hazim, Ibnu Dinar dan Ibnu Wahb. (Hal 46) Dari Ulama Kontemporer seperti: Wahbah Zuhaili, Habib Abdulllah bin Mahfudz Al Haddad, Syeh Ahmad bin Shiddiq Al Ghumari, Abdul Wahhab Abu Sulaiman, Dan Syeh Mushtofa Zarqo.

Habib Abdullah bin Mahfudz Al Haddad di dalam fatwanya menyebutkan:

Hukum Asal dalam membayar zakat fitrah adalah dengan memberikan bahan pangan dari batasan-batasan yang telah Rasulallah atur yaitu bahan makanan yang ada di kalangan mereka saat itu. Di dalam hadist Bukhori, Muslim dan lainnya:

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر صاعا من شعير أو صاعا من تمر

“Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah saw mewajibkan (zakat fitrah) dengan satu sho’ gandum atau kurma….”

Uang tunai merupakan cabang dari bahan pokok, para ulama tidak memperbolehkan-nya kecuali ulama madzhab Hanafi.” (Fatawa Romadhon, Habib Abdullah Mahfudz Al Haddad, hal 132).

Jika hal ini disangkal dan tidak diperbolehkan karena ketika menggunakan madzhab lain, karena jika memperbolehkan menggunakan pendapat ulama yang memperbolehkan penggunaan uang, sementara ia menggunakan ukuran zakatnya madzhab Syafi’i, maka ia sama saja melakukan talfiq yang terlarang. Maka, dapat dijawab dengan alasan: Bahwa larangan talfiq (menggabungkan dua pandangan dari madzhab yang berbeda sekiranya muncul sebuah gambaran yang tidak disahkan oleh kedua madzhab tersebut). Jika melihat sejarah madzhab, ternyata munculnya adalah ketika para imam-imam dalam madzhab tertentu mengikat pengikutnya untuk konsisten dengan Madzhabnya. Dan itu muncul pada abad ke 5 Hijriyah. Imam Syafi’i waktu itu (pada madzhab qodim) memandang bahwa rambut manusia hukumnya najis. Dan setelah memotong rambutnya, dan rambutnya tertinggal di pakaian beliau, ternyata kemudian beliau sholat, dan ditanya mengapa anda sholat? (Padahal membawa najis). Beliau menjawab: sekiranya dalam keadaan diuji, maka kita mengambil madzhab ulama Iraq (yang diantaranya adalah Imam Abu Hanifah. (Umdatut Tahqiq, Muhammad Said bin Abdurrahman Al Bani Al Husaini, hal 185)

Dalam kasus ini, Imam Syafi’i tidak memperrinci apakah sholatnya harus sesuai dengan madzhab Abu Hanifah. Sehingga, dalam ukuran zakat 1 Sho’ = 4 Mudd = 2.04 Kg. Sementara, dalam ukuran madzhab hanafi = 3.26 kg. Maka mengapa harus memaksakan diri dalam hal yang tidak diwajibkan, dengan kata lain: mengapa harus mewajibkan sesuatu yang tidak wajib yaitu harus sesuai dengan syarat dan rukun yang berlaku pada madzhab yang ditaqlidi.

Memang Boleh mengikuti/taqlid ke madzhab lain tetapi tidak diperbolehkan jika atas dasar main-main (al talahhi), dan yang wajib mengetahui adalah para ulama yang menjelaskan kepada masyarakat, bukan mewajibkan masyarakat untuk mengetahui pandangan-pandangan dalam madzhab lain.

Ungkapan yang menyatakan bahwa Lebih baik mengikuti madzhab lain yang kuat daripada mengikuti pandangan yang lemah dalam madzhab sendiri adalah hal yang kurang tepat. Syeh Ahmad bin Shiddiq Al Ghumari menyatakan, “Barang siapa yang bertaqlid, maka taqlidlah kepada imam-imam tersebut (yang disebutkan di atas), walaupun di luar madzhabnya, walaupun di dalan sebagian kasus adalah boleh menurut semua madzhah yang ada. (Tahqiqul Amal, hal 46)

Di samping itu, Yang dijadikan acuan dalam permasalahan ini adalah dalil yang digunakan sandaran serta kemaslahatan di balik fatwa yang disampaikan. Dan dalam permasalahan ini, dalil-dalil yang menunjukkan keabsahan zakat menggunakan uang adalah kuat. Sebagaimana yang diuraikan secara tuntas oleh Syeh Ahmad bin Shiddiq Al Ghumari dalam Tahqiqul Amal. Dan jika dilihat dari kemaslahatan, para fakir miskin itu lebih maslahat jika menerima zakat fitrah berupa uang daripada menggunakan beras.

Maka, dengan ini bolehlah membayar zakat fitrah dengan uang tunai, dan uangnya disesuaikan dengan menguangkan ukuran beras baik menurut madzhab Syafii (2,04 kg) atau dengan ukuran madzhab hanafi (3,26 kg) dan masalah ini dikembalikan kepada masing-masing individu yang ingin membayarkan zakatnya. Dan juga dipersilahkan untuk membayarkan zakat fitrahnya menggunakan beras dengan ukuran di atas.

Abdul Aziz Jazuli, Lc.
Ponpes TQN Al Mubarok, 17 Mei 2020

Sikapi Wabah Corona, Gus Nadir: Orang Aswaja Tidak Seperti Mu’tazilah atau Jabariyah

Previous article

Sayyidah Khodijah Istri Setia Yang Dirindukan Surga

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Fiqih

Zakat Fitrah Dengan Uang dan Kepada Guru Ngaji

Rutinitas tahunan yang selalu menjadi perdebatan yang tidak berujung. Ialah mengeluarkan zakat dengan uang. Apakah diperbolehkan atau tidak?. Mungkin kita sudah mengetahui bahwa ...

Hukum membatalkan puasa bagi yang Sakit

Soal: Saya seorang perempuan yang mengidap sakit kepala, dan kondisi saya semakin parah di bulan Ramadhan. Yaitu jika berpuasa maka banyak rasa sakit ...

Mengqodho Puasa Romadhon di Hari Jum’at

S: Jika wajib atas seseorang untuk melakukan qodho’ puasa Ramadhan dan tidak menemukan kesempatan kecuali hari Jumat seperti orang-orang yang berprofesi menjadi tentara, ...

Bagaimana memenuhi puasa nadzar?

Soal : seorang perempuan menginginkan rezeki untuk dirinya dan ia berkata: jika terpenuhi maka aku akan puasa satu hari dan satu harinya lagi ...