EsaiKeislamanPondok PesantrenSejarah

Pancasila dan Benahi Kaderisasi

0

(Bagian Kedua dari empat Tulisan)

Oleh Tubagus Soleh (Ketum Babad Banten Nasional)

 penentuan dasar negara pada tahun 1955 nampaknya meninggalkan trauma politikyang sangat dalam. Kekalahan politik level tinggi tentu saja menampar wajahpara petinggi Parpol. Seolah tidak percaya tapi fakta.

 Kekalahan politik itu juga meninggalkan kekecewaan namun minus intropeksi. Perlawanan politik dari petinggi Masyumi terhadap Rezim Soekarno dalam bentuk non parlemen ternyata berakibat sangat buruk yaitu pembubaran Masyumi beserta anderbownya GPII. Hingga kini kepres tentang pembubaran Masyumidan GPII belum di cabut. Fakta ini mengajarakan kepada kita bahwa perjuangan politik haruslah sesuai koridor hukum politik yang berlaku. Jangan sekali-kali keluar dari sistem permainan politik.

 Dalam hal permainan Politik,secara jujur saya katakan,kita harus belajar banyak dari NU. Kemampuan NU dalam beradaptasi disetiap rezim sangat luar biasa. Meskipun bersebrangan misalnya di zaman rezim orba dibawahkepemimpinan Jenderal Soeharto, NU sangat mampu menunjukan geliat organisasinya. Misalnya, NU mampu memberikan dukungan moral spiritual dan politik ketika rezim Soeharto menentapkan pancasila sebagai azas tunggal. Dan NU merupakan ormas yang pertama menerima keputusan pemerintah rezim Soeharto.

 Sikap fleksibelitas yang ditunjukan oleh ‘politisi’ NU susahdicernah oleh ‘Politis kaca mata kuda’. Bahkan menuduh NU selalu tidakkonsisten dalam garis perjuangan Umat Islam. Sebagai contoh,NU memilih masukdalam barisan NASAKOM dan menjadi bagian dari rezim. Padahal di kalangan akarrumput NU vis to vis dengan PKI. Tercatat Banser Ansor merupakan organisasiyang paling banyak bentrok fisik dengan PKI di lapangan.

 Saya kira dengan fakta seperti itu, para politis Parpol Islam harus belajar politik dari NU. Sikap fleksibelitas bukan sikap munafik. Apalagi dalamstratak politik. Tapi merupakan kemampuan beradaptasi dalam setiap keadaanpolitik di setiap rezim. Maka saya tidak heran,hingga saat ini eksistensi NU masih terus diperhitungkan bahkan harga politiknya sangat mahal. Siapapun tokohpolitik bila ingin mendapat legitimasi moral politik yang kuat haruslah mendapat restu dari NU.

Politik yang mengedepankan simbolitas Islam selalu menemukan jalan buntu dan berakhir mentok. Pembubaran Masyumi tahun 60-an dan penggabungan Parpol Islam dalam PPP serta kebijakan aztung Merupakan bahan renungan serius bagi para penggiat politik Islam di Indonesia.

Kesalahan cara berfikir, ketidakcermatan dalam membaca situasi-kondisi serta ngotot dalam sikap politik tanpa mempertimbangkan arus utama kekuatan rezim sering kali menjadi penyebab kegagalan parpol Islam dalam memainkan perannya secara maksimal dalam mengawal kepentingan aspirasi umat Islam Indonesia.

 Ketidaksesuaian antara jumlah kuantitas dengan suara yang diraihpartai Islam harus menjadi bahan koreksi serius agar tidak berlarutnya gap yang sangat lebar ini.

 Yang perlu disadari dan diterima dengan lapang dada oleh parapolitisi dan aktivis Islam adalah telah finalnya Pamcasila sebagai Ideologi dandasar negara. Kita tidak perlu mengotak atik Pancasila. Apalagi bikin istilahyang njelimet seperti Pancasila bersyariah, NKRI bersyariah atau apalah namanya. Istilah seperti itu hanya membuat kecurigaan dan kontraproduktif dalam perjuangan umat secara subtansial. Karena hal itu harus sudah kita anggap final.

 Yang perlu para porpol Islam lakukan hanya dua hal saja. Pertama,menerima keputusan politik pancasila sebagai dasar dan idelogi bangsa. Dan kedua, membenahi kaderisasi dengan wawasan ilmu Islam yang mengindonesia.Selama kedua hal tersebut diopeni secara serius, saya yakin masa depan parpol Islam akan bisa diterima oleh umat Islam sendiri. Kaderisasi harus menjadi agenda utama yang prioritas dengan kurikulum yang mengindonesia, akan menjadi Jawaban dari keraguan banyak pihak terhadap parpol Islam dari tuduhan ingin merubah dasar negara pancasila dengan “Islam” bila menang pemilu.

Ais Banten

Islam dan Politik Indonesia

Previous article

NU, Role Model Pergerakan Islam Rahmatan lil Alamin

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Esai

Kyaiku Sumber Inspirasiku

oleh: Muh. Thohir Ulfi, Lc (Ais Banten, Wakil Sek. LBM PWNU BANTEN) Malem ini, secangkir kopi menemaniku dalam kegelapan malem.Dengan asiknya kitab Adabul ...