KeislamanSejarah

Aswaja Ala Nahdlatul Ulama (Sebagai Semangat Dalam Berbangsa Dan Bernegara)

0

Oleh: Abdul Aziz Jazuli, Lc.

Aswaja sebagai sebuah Istilah dengan makna yang khusus merupakan hasil dari berbagai macam gesekan dari berbagai golongan. Sehingga, masing-masing golongan memiliki penafsiran yang berbeda dengan yang lain. Adapun penafsirannya, Imam Suyuti menyatakan: “Kata ahl adalah sebuah nama yang menunjukkan kedekatannya dengan yang disandarkan. Seperti dalam penggunaan ahlul Islam yang berarti seseorang yang memeluk agama Islam, Ahlul Qur’an bagi seseorang yang membaca, dan menegakkan semua hak-haknya al Qur’an” [Abul Fadhl Senori, Ad Durrul Farid, hlm 498] Dan “As Sunnah” menurut pandangan Hadrotus Syeh KH. M. Hasyim Asy’ari, adalah “Jalur yang diridhoi dan dijalani dalam agama, dilakukan oleh Rasulullah saw atau yang lainnya dari tokoh-tokoh yang merupakan panutan dalam agama, seperti para sahabat Nabi saw.” [Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, Kh. Hasyim Asy’ari, hlm 5].

Dan kata “al jama’ah” memiliki makna kalangan mayoritas muslimin yang dengan mereka kekuatan umat Islam menyatu dan kebesaran mereka terlihat. Dan ini tentunya adalah golongan yang terbesar “as sawadul a’dhom” dari umat Islam. Walaupun terdapat perbedaan pandangan dalam permasalahan-permasalahan yang tidak mengeluarkan mereka dari ahlul qiblat “sebagai seorang muslim”. “Ahlus Sunnah wal Jamaah ialah ahli tafsir, hadist, fiqih, karena merekalah yang mendapatkan petunjuk dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi saw dan para khulafa’ rosyidin, dan merekalah golongan yang selamat (al-firqotun najiyah).” [Ziyadatut Ta’liqot, Kh. Hasyim Asy’ari, hlm 23].

Dalam Qonun Asasi Hadrotus Syeh menguraikan organisasi NU, dengan pernyataan: “Nahdlatul Ulama berakidah menurut faham ahlus sunnah wal Jamaah dalam bidang akidah mengikuti madzhab Imam Abul Hasan Al Asy’ari, dan Imam Abu Manshur Al Maturidi; dalam bidang fiqih mengikuti salah satu dari madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) dan dalam bidang tasawwuf mengikuti madzhab Imam Al Junaid Al Baghdadi dan Abu Hamid Al Ghozali.” [Qonun Asasi, hlm 25-26].

Dari pernyataan di dalam Qonun Asasi, kita fahami bahwa NU adalah sebuah organisasi yang konsisten dalam bidang fiqih, akidah dan tasawwuf. Tentunya dengan ormas-ormas lain agak sedikit berbeda; karena NU memiliki nilai lebih yang menekankan kepada nilai-nilai akidah, fiqih, dan tasawwuf. Dan itu dapat diimplementasikan dalam sikap nahdliyyin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dibuktikan dengan perjuangan mereka sebelum kemerdekaan, setelah kemerdekaan sangat terlihat di dalam resolusi jihad yang ditetapkan pada tanggal 22 oktober 1945, ketika Mbah Hasyim menfatwakan wajibnya berjihad melawan Belanda yang ingin kembali merebut Indonesia -setelah Jepang kembali ke negara mereka- dalam radius 90 km, dari semua kalangan, baik dari kalangan anak-anak, wanita, dewasa dan orang tua sekalipun.

Dan alhamdulillah, munasabah tersebut ditetapkan sebagai hari santri sebagai penghargaan yang sebesar-besarnya kepada kalangan santri dan kyai yang memiliki andil besar dalam berdirinya NKRI ini. Suatu kenikmatan yang patut disyukuri dan disemarakkan, agar kita selalu mengingat bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”, sebagaimana ungkapan dari Bung Karno. Sehingga, nilai-nilai kebangsaan dan kenegaraan didapatkan dengan mengikuti faham aswaja ala nahdlatil ulama, tanpa diragukan sedikitpun. Dan kita harus menyadari bahwa Aswaja ala Nahdlatil Ulama adalah aswaja yang begitu moderat, mampu beradaptasi dengan lingkungan dalam ranah masyarakat dan umat Islam secara keseluruhan, mampu mengikis nilai-nilai perbedaan, perselisihan, tidak membesar-besarkan permasalahan yang tidak penting, berdakwah dengan al-hikmah wal mau’idhotil hasanah (dengan lemah lembut dan penyampaian yang baik), tidak menggunakan dakwah dengan model dakwah radikalis, tidak suka mengkafirkan, membid’ahkan dan memfasiqkan. Karena radikalisme bukanlah faham Islam yang diajarkan oleh Rasulullah saw dan juga tidak terdapat di dalam ayat-ayat Al Qur’an dan juga ajaran ulama-ulama salaf. Ulama salaf tidak pernah menghalalkan darah seorang muslim tanpa haq, tidak pernah menebarkan kebencian kepada manusia, dan tidak menyatakan bahwa golongannya ialah golongan yang terbaik dan paling benar. Dan nilai-nilai tersebutlah yang menjadi kesepakatan pada konverensi ulama sedunia di Cechnya pada tahun 2016. Di mana golongan “Wahabi” atau golongan radikalis bukan termasuk golongan ahlussunnah wal jamaah. Maka, penafsiran aswaja tidak boleh diarahkan kepada makna yang mengandung kepentingan-kepentingan politik atau golongan tertentu atas nama agama bukan?.

Ais Banten

Islam Moderat yang Berdaulat

Previous article

BUYA MUHTADI BIN BUYA DIMYATI CIDAHU PANDEGELANG BANTEN, KEILMUANNYA DIMATA ULAMA DUNIA

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Keislaman

Kemulian Bulan Muharam

Oleh : Mughni Labib, S. Hum (Kord. Div. Konten AIS Banten) Tidak terasa kini kita sudah berada di penghujung bulan tahun hijriyah. Tinggal ...

Antara Fiqih, Tasawwuf & Tauhid

Berbicara tentang fiqih tentu yang tergambar di dalam fikiran kita adalah hukum. Dan berbicara tentang tasawwuf akan menarik kita kedalam kehidupan sufi yang ...

Zakat Fitrah Dengan Uang dan Kepada Guru Ngaji

Rutinitas tahunan yang selalu menjadi perdebatan yang tidak berujung. Ialah mengeluarkan zakat dengan uang. Apakah diperbolehkan atau tidak?. Mungkin kita sudah mengetahui bahwa ...