Sejarah

JARINGAN INTELEKTUAL ULAMA NUSANTARA – INDIA – TIMUR TENGAH

0

Dalam kurun waktu yang cukup lama, para ulama Nusantara terdahulu memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu. Betapa benarnya sabda Rasulullah saw yang memerintah untuk menuntut ilmu di tempat yang jauh, ketika dibutuhkan. Pada awal abad 16 M, salah ulama Nusantara yang terkenal, berasal dari Makasar, Sulawesi Selatan, pernah tinggal cukup lama di Banten, di Mekah, dan dibuang ke Srilanka dan kemudian ke Afrika Selatan. Ialah Syeh Yusuf Al Taj Al Kholwati.

Dalam teks Ijazah yang beliau berikan kepada muridnya, ia menuliskan namanya dengan cukup lengkap, yaitu: Yusuf Al Taj bin Abdullah bin Abil Khoir Al Jawi Al Maqasari Al Kholwati. Namun keterangan selanjutnya tidak penulis dapatkan secara lengkap. Hanya gambaran sekilas yang didapatkan. Namun dalam kitab Al Nafa’is Al Ulwiyyah fi Al Masa’il Al Shufiyah karya Al Habib Abdullah Al Haddad menyinggung sedikit tentang ketokohan Syeh Yusuf Al Makasari ini. Setelah beliau membahas tentang adanya martabat selain maqom kenabian dan maqom siddiqiyyah, beliau kemudian menjelaskan bahwa masih terdapat kungkinan, dan menurut imam Ibnu Arobi terdapat maqom yang bernama maqom qurbah (kedekatan). Beliau lanjutkan,

وله في ذلك مؤلف لطيف وقد رأيناها وقرئ علينا بتعز من بلاد اليمن، قرأه رجل من أهل العلم والتصوف يسمى يوسف الجاوي، وهو من أصحابنا

“Dan ia (Ibnu Arobi) memiliki karya tulis yang kecil, kami telah melihatnya dan dibacakan kepada kami di kota Taiz salah satu daerah Yaman, seorang tokoh dari kalangan ahli ilmu dan tasawwuf yang bernama Yusuf Al Jawi, ia termasuk dari murid-murid kami.” (Hal 144)

Dalam penerjemahan “min ashabina” saya artikan dengan murid, karena dapat dibuktikan bahwa syeh Yusuf Al Makasari adalah benar-benar murid beliau sebagaimana keterangan murid beliau yang bernama Syeh Abdul Basyir Al Dlarir Rappang, dalam sebuah manuskrip yang diterjemahkan oleh Ahmad Baso. Dan penggunaan tersebut juga berlaku pada kata-kata seperti “Ashab Al Syafi’i” yang berarti murid-murid imam Syafi’i.

Di sini terlihat bagaimana hubungan antara Syeh Yusuf Al Makasari dan Habib Abdullah Al Haddad sebagai guru dan murid, walaupun posisi mereka tidak berada di Tarim, Hadramaut, Yaman tempat kediaman Habib Abdullah Al Haddad. Tetapi berada di kota Taiz, Yaman Utara. Dimungkinkan terjadinya pertemuan antara beliau berdua sedang melakukan perjalanan, baik perjalanan haji atau lainnya.

Di sisi lain, penulis menemukan manuskrip kitab Lathoiful I’lam fo Isyaroti Ahlil Ilham karya imam Kamaluddin Abdurrozzaq bin Muhammad Al Qosyani (w. 736 H), salah satu tokoh sufi asal Qosan/Kasan satu daerah dekat kota Ashfihan, Iran. Di dalam manuskrip ini terdapat karya lain seperti An Nashoih ala Najhi Al Syari’ Al Musthofawi Al Fatih fi Dzkri Ma La Yu’awwal Alaihi fi Thiriqillah karya imam Ibnu Arobi. Dan yang lebih menarik lagi, terdapat silsilah khilafah beberapa thoriqoh shufiyah yang didapatkan oleh Syeh Yusuf Al Makasari. Seperti thoriqoh Al Al Arobiyyah Al Hatimiyyah yang dinisbatkan kepada imam Ibnu Arobi yang pernah diulas oleh Ginanjar Sya’ban, Thoriqoh Al Khodliriyyah, Al Ilyasiyyah, Al Qodiriyah, Al Kholwatiyyah, Al Sahrowardiyyah, Al Rifa’iyyah, Al Syadziliyah, An Naqsyabandiyah, Al Syaththoriyah dan Al Faridliyyah.

Tidak semua kekhilafahan Thoriqoh-thoriqoh sufi tersebut didapatkan dari satu guru. Tapi dari guru-guru thoriqoh yang berbeda-beda pula. Seperti: Syeh Mulla Burhanuddin Abu Muhammad Ibrohim bin Hasan Al Kuroni Al Kurdi (Madinah) , Zainuddin Hasan bin Ali Al ‘Ujaimi, Jamaluddin bin Muhammad bin Barokaat Al Syami (Suriah), Abul Barokat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al Kholwati Al Qurosyi Al Umawi Al Dimasyqi (Damaskus, Suriah), Nuruddin bin Hasanji Al Raniri Al Hindi, Jamaluddin Muhammad Baqi bin Syeh Zein Al Mizjaji (Zabid, Yaman), Syeh Jamaludiin Muhammad bin Al Wajih Al Ruqaimi Al Syatiri (?), dan Jamaluddin Muhammad bin Abdul Latif bin Ali Al Tsabiti.

Kesemuanya itu ditulis oleh Syeh Yusuf Al Makasari sendiri, dan diijazahkan kepada seorang muridnya yang bernama Al Sayyid Al Allamah Ibrohim bin Abil Faroj Al Bairuni pada hari Rabu, akhir bulan Robi’ul Awal pada tahun 1080 H / Agustus 1669 M.

Insyaallah dalam tulisan selanjutnya, akan penulis ulas tentang Silsilah kekholifahan Thoriqoh Sufi dari Syeh Yusuf Al Makasari ini.

Abdul Aziz Jazuli, Lc.
Ponpes TQN Al Mubarok, 30 Mei 2020

Ais Banten

Takbir Hati Sebelum Lisan

Previous article

Apa Kiat Agar Doa Terkabul?

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Sejarah

Sejarah NU di Banten

Disusun oleh: Imaduddin Utsman (Wakil Katib PWNU Banten) Tidak banyak yang menulis bahwa pada pembentukan NU pada tanggal 16 Rajab 1344 H. atau ...

Pancasila dan Benahi Kaderisasi

(Bagian Kedua dari empat Tulisan) Oleh Tubagus Soleh (Ketum Babad Banten Nasional)  penentuan dasar negara pada tahun 1955 nampaknya meninggalkan trauma politikyang sangat ...