Tasawuf

Bagaimana Pandangan Seorang Sufi?

0

Seorang Sufi itu Berpandangan Luas

“Tidak akan ke mana-mana”, kata kunci yang selalu terngiang-ngiang di fikiran ulama sufi. Al ‘ubudiyah Al Mahdhoh (penghambaan yang murni) itulah target utama dalam kehidupan manusia yang sebenarnya. Segala upaya dan daya dilakukan demi menciptakan tujuan tersebut. Karena pada hakikatnya Allah ciptakan manusia agar mereka menghambakan diri kepada-Nya.

Dunia yang gelap, menakutkan, membosankan, ketakutan, kebodohan, uzlah dan menghindari pergaulan, itulah fenomena yang acap kali digambarkan di dalam dunia sufi. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian jika kita mau membuka lembaran-lembaran kehidupan yang mereka alami. Jika berbicara tentang amal, mereka nomor satu. Jika berbicara tentang keyakinan mereka tiada tanding. Berbicara tentang ilmu syariat, banyak karya mereka yang menjadi rujukan utama dalam ilmu-ilmu tersebut. Jika berbicara tentang karya tulis, dunia menjadi saksi akan banyaknya karya yang ditulis, baik yang ditulis secara langsung atau hasil pendekatan. Ya, betul apa yang sering disebutkan “Al hukmu ala sya’ far’u tashowwurih” (menghukumi sesuatu merupakan cabang dari penggambarannya). Jika penggambarannya sesuai dengan realita, maka hukum yang ditetapkan, jika salah? Maka anda dapat menentukan jawabannya sendiri.

Penulis akan sebutkan beberapa kisah yang menguatkan statemen di atas, yang menunjukkan hakikat kebenaran apa yang ditulis, mematahkan pandangan-pandangan yang selama ini kering dan membusuk di fikiran kita.

1) Imam Abul Qosim Junaid Al Baghdadi, yang mungkin sebagian tidak asing dengan nama ini. Ada seorang ulama kenamaan di masanya bermadzhab Syafi’i dan menjadi panutan banyak massa. Sesekali ada seseorang yang menghadiri pengajiannya di sebuah masjid. Ia kagum dengan kedalaman ilmu dan keluasan ilmu pengetahuannya. Kekagumannya terbaca oleh Qodhi Ibnu Suraij. Sang Qodhi pun bertanya: kau tau dari mana datangnya pengetahuan ini? Berguru kepada siapakah aku? Sang penanya terkejut dengan pertanyaan ini, dan ia lebih memilih diam. Qodhi pun menjawabnya sendiri dan mengatakan: “Ini semua sebab keberkahan seringnya bergumul dengan Abul Qosim Junaid Al Baghdadi. (Muqoddimah Al Munqidh Minadh Dholal, Abdul Halim Mahmud, hlm 18).

Fenomena yang menakjubkan. Pengakuan dari seorang pakar fiqih dan Ushulnya bahwa sumber pengetahuan berkat keberkahan dari seorang sufi yang dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan. Padahal faktanya menunjukkan bahwa para pakar ilmu dhohirlah yang justru berguru kepada para tokoh sufi. Karena mereka memiliki sumber-sumber pengetahuan yang tidak dimiliki oleh ulama dhohir.

2) Imam Abul Hasan Ali bin Abdul Ghoffar Asy Syadzili. Nama ini lebih familiar lagi dibandingkan dengan tokoh sebelumnya. Seorang tokoh yang memiliki thoriqoh sufiyah yang eksis sampai saat ini. Di mana Abul Hasan ini ialah seorang sufi yang memiliki kekayaan yang melimpah , bahkan ia memiliki banyak perkebunan, peternakan dan bisnis perdagangan yang sangat menggiurkan hasilnya. Bahkan di setiap doanya , beliau mengatakan:

اللهم وسع علي رزقي في دنياي ولا تحجبني بها في أخراي

“Ya Allah limpahkanlah rizkiku di duniaku, tetapi jangan jadikan ia sebagai penghalang akhiratku”

Itulah doa yang seringkali dilantunkan oleh Imam Abul Hasan Al Syadzili, yang menunjukkan bahwa tasawwuf tidak melarang seseorang menjadi ilmuan, juragan, orang berpunya, tidak memerintahkan seseorang untuk hidup miskin dan berpakaian compang-camping. Karena yang menjadi barometer adalah hati. Jika hatinya sepi dari dunia, maka walaupun dunia ada di tangannya, itu tak sedikitpun menggerakkan hatinya untuk mencintainya. Hal yang berbeda dengan fenomena yang sering ditemui di zaman ini.

3) Hujjatul Islam Muhammad bin Muhammad Al Ghozali. Tentu kisah yang familiar di telinga kita adalah kisah spiritual yang dialami oleh Imam Hujjatul Islam Al Ghozali, di mana ia mengalami kegalauan yang luar biasa bahkan untuk menyusun kata-kata untuk mengajar muridnya yang berjumlah 300 an. Tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, mulut seakan ada yang menjahitnya, Tetapi setalah melalui perjalanan yang melelahkan selama bertahun-tahun (ingat, bertahun-tahun, bukan hanya berminggu-minggu apalagi berhari) ia mendapatkan jawaban dari kegalauan intelektual yang dialami. Namun hal ini semua setelah mematangkan ilmu-ilmu dhohir, yang tercakup dalam ilmu furu’ atau Ushul, fiqih, Ushul Fiqih, tauhid, filsafat, sampai kedokteran. Bukan hanya matang dalam ilmu tasawwuf.

4) Imam Abdul Wahhab Al Sya’roni. Tokoh yang produktif, memiliki puluhan karya tulis. Baik yang berbau tasawwuf atau bukan. Belum lama satu karyanya tentang Ushul Fiqih yang berjudul Minhajul Wushul Fi ‘Ilm Al Ushul yang memiliki ketebalan kurang lebih 600 halaman, karya ini merupakan prosa tentang ilmu Ushul fiqih yang model penulisannya kurang lebih sama dengan penulis dalam disiplin ilmu Ushul fiqih yang bukan seorang sufi. Meski seorang sufi, tapi beliau mampu menulis tentang ilmu Ushul fiqih yang tak semua ulama memiliki karya tentangnya. Itu juga membuktikan bagaimana diskursus keilmuan yang matang mereka juga menguasainya. Di tambah lagi dengan sebuah karya yang berjudul Al Mizan Al Kubro, sebuah buku yang membahas tentang fiqih perbandingan (fiqih muqoron) yang menyebutkan pandangan-pandangan fiqih dari berbagai versi madzhab fiqih dengan menyebutkan argumentasi masing-masing pandangan. Meskipun ada nilai kurangnya bahwa disebagian permasalahan penukilannya kurang valid, dan ini merupakan hal wajar yang tidak hanya Al Sya’roni lalui tetapi ulama-ulama lain juga melakukan kesalahan yang sama. Dan asyiknya kitab ini, ia adalah buku fiqih perbandingan yang bernuansa sufi. Meski Ihya Ulumuddin karya Al Ghozali juga demikian, namun tak selengkap Al Sya’roni dalam pemaparan pandangan dan argumentasi.

Itulah setetes dari samudera dunia sufi yang penuh dengan keajaiban. Penuh dengan pengetahuan yang mungkin kita merasa asing jika mendengarnya. Padahal itu merupakan hal yang lumrah dialami oleh tokoh-tokoh sufi. Di mana kehidupan mereka seperti kehidupan manusia lainnya yang penuh dengan warna warni, penuh dengan corak kehidupan dan pola pemikiran. Tapi mereka memiliki nilai plus yang tak dimiliki golongan lain, ialah pembersihan hati dan pemurnian jiwa yang tak dimiliki golongan biasa.

Penulis akhiri dengan kisah pribadi yang dialami sendiri oleh Hujjatul Islam Al Ghozali di dalam karya yang menceritakan pengalaman pribadinya Al Munqidh Minadh Dholal, beliau menceritakan: “Dari dulu aku menebarkan ilmu yang dapat mengangkat popularitas dan menarik dunia, aku mengajak kepadanya dengan ucapan dan perbuatan. Itulah tujuan dan niatku. Tetapi sekarang, aku mengajak kepada ilmu yang dapat meninggalkan popularitas dan dapat mengetahui bagaimana menggugurkan popularitas. Inilah niatku saat ini, dan hanya Allah lah yang mengetahuinya. Aku ingin memperbaiki diriku dan orang lain , tapi aku tidak tau apakah aku sampai kepadanya atau tidak. Tapi aku yakin dengan keimanan yang sebenar-benarnya, bahwa Allah lah dzat yang tiada kuasa dan daya melainkan dengan dzatnya. Aku tidak bergerak kecuali ia yang menggerakkan ku, aku tak melakukan perbuatan kecuali Ia lah yang mempergunakan diriku. Maka aku memohon kepada-Nya untuk memperbaiki diriku terlebih dahulu kemudian memperbaiki sebab diriku, dan memberiku petunjuk, kemudian memberikan petunjuk sebab diriku.”

Itulah pesan tertulis yang diabadikan di dalam catatan harian Imam Ghozali yang pada akhirnya kembali kepada penghambaan yang murni kepada Allah, seperti pembuka tulisan ini. Dengan ini, ternyata kehidupan para sufi berwarna warni, tidak seperti yang kita bayangkan bukan?


By: Abdul Aziz Jazuli

Ais Banten

Plang Nama Pondok Pesantren TQN Al Mubarok Cinangka di Rusak Orang Yang Tidak Bertanggung Jawab

Previous article

Penanganan COVID-19 di Kota Serang

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *