Tasawuf

Futuhul Arifin, Kitab Rujukan Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN)

0

Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiah merupakan Thoriqoh yang tidak asing lagi di antara masyarakat Indonesia. Karena ia dinilai lebih populer dari pada thoriqoh lainnya di kalangan masyarakat. Walaupun sebenarnya ia termasuk thoriqoh yang perkembangannya dianggap baru dari pada thoriqoh yang lain. Seperti yang ajaran thoriqoh yang disebar-luaskan oleh Syeh Abdurra’uf Singkel al Fanshuri pada abad 17 M, yang kemudian dikembangkan oleh muridnya yaitu Syeh Abdul Muhyi, Pamijahan Tasik Malaya, dan kemudian mengangkat beberapa kholifah untuk mengembangkan thoriqoh Syaththariyah. Seperti yang tertera di dalam naskah manuskrip Thoriqoh Syaththariyah di Cirebon melalui Jalur Bagus Muhammad Ihram, Babakan, Cirebon.

Tokoh pertama yang mengembangkan Thoriqoh Qodiriyah (wa) Naqsyabandiyah (atau tanpa menggunakan penambahan “wa”) ialah al Alim Al ‘Allamah Sayyidi Syeh Ahmad Khotib bin Abdul Ghoffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaludin Sambas, seorang ulama yang lahir pada tahun 1803 di Sambas, Kalimantan Barat, dan meninggal pada tahun 1875 M. Beliau lama tinggal di Mekah, semenjak beliau masih kecil, dan dari semenjak dini beliau mendalami ilmu-ilmu syari’at dari ulama-ulama sewaktu sebelum keberangkatannya ke Mekah atau setelah kedatangannya di Mekah. Di antara guru-gurunya ialah Syeh Daud bin Abdullah Al Fathoni yang terkenal sebagai mursyid thoriqoh Syaththoriyah. Kemudian beliau bergguru kepada syeh Syamsudin, guru besar Thoriqoh Qodiriyyah. Sementara dalam Thoriqoh Naqsyabandiyah beliau mengambil dari Syeh Sulaiman Efendi. Namun menurut kitab Fathul/Futuhul Arifin, yang tertera hanyalah silsilah dari Syeh Syamsudin. Dan patut menjadi catatan atas kitab ini, Apakah kitab tersebut disusun secara langsung oleh Syeh Ahmad Khotib Sambas? Ataukah hasil pendiktean kepada para murid-muridnya? Atau hasil karya muridnya yang kemudian ditashih kepada syeh Ahmad Khotib?. Pertanyaan ini tidak akan terjawab kecuali dengan kembali kepada kitab Fathul/Futuhul Arifin sendiri.

Pada pembukaan kitab itu menyebutkan, “Bismillahirrohmanirrohim, Alhamdulillah, was Sholatu was Salamu ‘ala Rasulillah. Bermula segala puji tsabit bagi Allah ta’ala dan rahmat dan salamnya atas pesuruh Allah, yaitu Nabi Muhammad Saw. Wa ba’du, dan kemudian dari pada itu, maka inilah thoriqoh yang dibangsakan kepada Qodiriyyah dan Naqsyabandiyah. Maka adalah dua thoriqoh ini terhimpun kepada silsilah Qodiriyah (??). Yaitu kepada syeh kita dan guru kita yang ‘alim al ‘allamah wa Bahrul Fahhamah Maulana al Syeh Ahmad Khotib bin Abdul Ghoffar Sambas, yang ada pada masa sekarang di dalam negeri Mekah al Musyarrofah.” [Manuskrip Futuhul ‘Arifin, hal 1].

Terlihat dari sini bahwa yang menyusun adalah murid Syeh Ahmad Khotib Sambas, bukan beliau sendiri. Hal ini cukup terlihat di dalam muqoddimah ini, dan yang hanya menyebutkan silsilah qodiriyah ini tentu juga bukan syeh Ahmad khotib, melainkan murid beliau yang dalam naskah manuskrip ini. Karena tidak terdapat penyebutan langsung bahwa yang mengarangnya adalah beliau sendiri. Tetapi hal ini tidak mengurangi pentingnya kitab ini; karena kitab inilah yang menjadi dasar dalam Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah yang tersebar di Asia Tenggara secara umum. Dan tentunya terdapat kemungkinan besar bahwa Syeh Ahmad Khotib Sambas memiliki sanad silsilah Naqsyabandiyah yang beliau mendapatkan kekholifahan Naqsyabandiyah dari Thoriqoh Naqsyabandiyyah, yang belum kita dapatkan. Atau memang mencukupkan satu silsilah sanad saja ; karena di kolofon awal kitab ini menyebutkan demikian, “Bahwa inilah kitab yang bernama Futuhul ‘Arifin yaitu bicara Thoriqoh al Qodiriyah al Naqsyabandiyah li Maulana Syeh Abdul Qodir Jailani, karangan guru hamba yaitu Tuan Syeh Ahmad Khotib Sambas, Nafa’allah bihi Amin”

Penulis mendapatkan dua naskah dari kitab Fathul/Futuhul ‘Arifin:

(1) Yang pertama adalah naskah yang masih berupa manuskrip dan ini adalah naskahnya Muhammad Ma’ruf bin Syeh Abdullah Al Khotib Al Falembani yang terhitung lebih tua daripada naskah yang kedua. Yaitu ditulis pada tanggal 9 Jumadil Awal tahun 1287 H atau 7 Agustus 1870 M dan ditulis di Mekah.

Sebelum penyebutan isi dari kitab Futuhul ‘Arifin, terdapat keterangan demikian, “Bahwa inilah kitab yang bernama Silsilah Qodiriyah yang dibangsakan kepada Naqsyabandiyah yaitu terhimpunlah dua Thoriqoh ini kepada Maulana Quru lagi Syeh yang Alim Allamah serta Bahrul Fahhamah yaitu Maulana al Syeh Ahmad Khotib bin Al Marhum Abdul Ghoffar yang diperanakkan di Syambas yang ada pada mas ini di dalam Negeri Mekah al Musyarrofah Kampung Maulid Nabi Saw, yang tercap ditangan adh’afut thullab (santri yang paling lemah) yaitu Muhammad Ma’ruf bin Syeh Abdullah al Khotib Palembang di Negri Singapura, kampung Masjid Sultan Ali al Iskandar Syah yaitu kepada malam Selasa kepada jam pukul satu yaitu lima hari, bulan Jumadil Awal …… (terdapat kata-kata yang dicoret).”

Di akhir naskah ini tertulis, kolofon yang tertera di dalam kolofon di akhir kitab ini, “Qod tamma silsilatul qodiriyyah an naqsyabandiyyah limu’allifihi al ‘alim al ‘allamah wa bahrul fahhamah maulana al syeh Ahmad Khotib bin Al Marhum Sambas bil Jami’ al harom Makkah al Musyarrofah ‘inda maulidin nabi ghofarallahu lana wa lijami’il muslimin, khusushon li katibiha muhammad Ma’ruf bin Syeh Abdullah al Khotib Palembang” (telah sempurna silislah Thoriqoh Qodiriyyah An Naqsyabandiyyah oleh pengarangnya, seorang yang alim, bagitu alim, pemahaman yang luas ibarat lautan, yaitu Maulana Syeh Ahmad Khotib bin Al Marhum Abdul Ghoffar Syambasy di Al Jami’ Al Harom, Mekah yang dimuliakan, di samping tempat kelahiran Nabi saw, semoga Allah mengampuni kita dan semua muslimin. Khususnya kepada penulisnya yaitu Muhammad Ma’ruf bin Syeh Abdullah al Khotib Palembang.) tidak hanya itu, naskah ini juga dikaji oleh Muhammad Ma’ruf bersama dengan beberapa temannya, yaitu: Al Mukarrom Enci’ Muhammad Sayyidin, dan Haji Muhammad Yahya.

(2) naskah yang kedua dan naskah inilah yang tercetak, ialah naskah Muhammad Isma’il bin Al Marhum Abdurrohim Al Bali al Fani. Dan naskah ini ditulis di Tho’if pada bulan Rojab tahun 1295 atau bulan Juli tahun 1878 M. Terpaut sekitar 8 tahun dari naskah yang pertama. Hanya sayang sekali, di dalam naskah ini tidak ditemukan banyak keterangan mengenai siapakah Muhammad Isma’il al Bali? tinggal dimana dan meninggal di mana ?

Tentu masih banyak hal yang harus dipelajari di dalam thoriqoh ini, baik tokoh-tokohnya, atau naskah yang sampai saat ini menjadi rujukan utama dalam TQN dan menjadi tugas generasi penerus untuk menelusurinya bukan?

Sabtu, 9 Mei 2020, Ponpes TQN Al Mubarok, Cinangka, Serang, Banten.
Abdul Aziz Jazuli, Lc.

Ais Banten

Apa Kiat Agar Doa Terkabul?

Previous article

Adab-Adab Berdzikir

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *