Artikel

Asyuro ‘ dan Puasanya

0

Oleh : Syekh Abdul Aziz Jazuli, Lc. (Div. Konten AIS Banten)


Sebagian kalangan menganggap bahwa Asyuro’ tanggal 10 Syawwal merupakan sebuah rutinitas yang biasa dilakukan oleh ahlul kitab (Yahudi & Nashrani), atau golongan Syi’ah (golongan yang keluar dari faham mayoritas umat Islam). Tentu bukan demikian, karena Asyuro’ merupakan hari yang agung yangjuga dihormati oleh Nabi Muhammad saw. Dan beliau pernah memerintahkan umat Islam untuk berpuasa di hari tersebut. Memang di dalam fiqih lintas madzhab terdapat polemik apakah puasa tersebut merupakan sebuah kewajiban atau hanya sekedar sunnah muakkadah sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan. Sehingga, setelah puasa Ramadhan diwajibkan kepada umat Islam, puasa tersebut tidak bergeser menjadi puasa yang haram tetapi tetap disunnahkan.

Puasa Asyuro’ memang sangat klasik, karena ia tidak hanya disunnahkan oleh Nabi Muhammad saw, tetapi Nabi Nuh dan Nabi Musa. Bahkan nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw juga memerintahkan umatnya untuk memuasainya. Sebagaimana diuraikan oleh Imam Ibnu Rajab Al Hanbali di kitab Latho’iful Isyarot (hlm 122-123). Tidak hanya para nabi, para Ahlul Kitab bahkan Ahlul Jahiliyyah pun juga memuasainya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Puasa Asyuro’ merupakan syari’ah qodimah (ajaran agama yang klasik).

Ada beberapa kondisi yang dilalui oleh Rasulullah saw dalam masalah puasa Asyuro:

  1. Rasulullah saw memuasai Asyuro’ tapi tidak memerintahkannya kepada umat Islam.
  2. Rasulullah saw ketika datang ke Madinah dan melihat Ahlul Kitab memuasai Asyuro’, beliau suka menyamai Ahlul Kitab dalam permasalahan yang tidak terdapat wahyu dari Allah. Maka beliau memerintahkan umatnya dan menguatkan perintah itu kepada umat Islam.
  3. Ketika Puasa Ramadhan diwajibkan kepada umat Islam, Nabi memerintahkan umat Islam untuk memuasai Asyuro’.
  4. Nabi berazam pada akhir umurnya untuk memuasai Asyuro’ tapi harus berbarengan dengan hari lainnya, baik sehari sebelum Asyuro’ atau setelah Asyuro’. Karena beliau tidak begitu suka menyamai ahlul kitab.
    Dan masing-masing dari kondisi ini dikuatkan dengan hadits-hadits yang kuat. Dan pada akhirnya, azamnya Nabi Muhammad saw ditafsirkan oleh ulama-ulama sebagai sebuah kesunnahan yang kuat (sunnah mu’akkadah) .

Memang dalam hari Asyuro’ tidak hanya puasa saja yang disunnahkan, namun ada beberapa hal lain. Di antaranya: taubat kepada Allah atas segala dosa yang dilakukan, melapangkan rizki kepada sanak famili, memperbanyak sedekah dsb. Dan jangan tertipu dengan yang dilakukan oleh golongan syiah yang menjadikan Asyuro’ sebagai hari kesedihan atas kematian Sayyidina Husain dengan memukul-mukul badan dengan senjata tajam sehingga berdarah-darah; karena itu bukan ajaran Islam tetapi ajaran jahiliyyah. Karena jika hal itu diperbolehkan, maka yang lebih pantas adalah para nabi, mereka tentu lebih mulya dan siksaan yang mereka dapati lebih parah daripada yang dialami oleh Sayyidina Husain. Buktinya mereka sama sekali tidak memerintahkan untuk memperingati hari-hari siksaan yang dialami. Sehingga, di balik apa yang golongan Syi’ah lakukan tentunya ada kepentingan bukan?

Ais Banten

Kemulian Bulan Muharam

Previous article

DTD Banser Pandeglang Diikuti 500 Pemuda Banten

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

Netralisir Kesedihan Dengan Doa

Dari sekian perjalanan hidup yang tidak selalu lurus, lika-liku dari terjal medan kehidupan yang harus dijumpai tak jarang membuat kita menitikan air mata, ...

Apakah Islam Hanya Simbol?

Kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illa allah” adalah kalimat suci yang tidak akan dipungkiri oleh siapapun dari kalangan muslimin. Bahkan terdapat berapa banyak hadist ...