Artikel

Kalian Suci (Aku Penuh Dosya)

0

‎- عَنْ أَبِي ذَرٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قَالَ لِي النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: قُلْ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا» صَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ مِنْ حَدِيثٍ طَوِيلٍ

Dari Abi Dzar Ra Rasulullah berkata : “Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit” hadist ini di shohihkan oleh ibnu Hibban

Sebuah hadist yang terdapat dalam kitab bulughul marrom No 832 yang sering digunakan sebagai legalitas untuk menjudge keburukan orang lain. Mudah berkata itu buruk pada hal-hal yg ambiguitas dengan sudut pandang subyektifnya.

Padahal jika kita renungkan bukankah hadist tersebut menjadi sebuah peringatan dan tamparan keras untuk kita sendiri. Katakanlah kebaikan walaupun perbuatan kita penuh keburukan tidak lantas menyembunyikan keburukuan kita seolah-olah kita yang terbaik, justru harus kita ungkapkan bahwa perbuatan diri kita adalah keburukan yang tak layak diikuti. Kemudian, tunjukanlah kebaikan, walaupun itu menyakiti perasaan kita sendiri.

Beda halnya dengan memperingati orang lain, tidak harus mengungkapkan kebaikan diatas keburukan orang lain dengan menyakiti perasaanya atau menjadge kesalahan orang lain secara terang-terangan (tempat umum).

Sebagaiman yang dikatakan Al-Imam Syafi’i dalam Diwannya:

“Memperingati/menasihati orang lain ditempat umum adalah penghinaan” (mimin lupa nash Arabny)

Hal itu tidak menyelesaikan masalah justru memperbesar masalah, bukan memperjuangkan kebaikan justru menimbulkan kebencian. Bukannya perkataan yang di ucapkan dengan hati akan mudah diterima oleh hati, begtu juga sebaliknya perkataan yang diungkapkan dengan kebencian akan diterima dengan kebencian.

Lantas jika bisa berbicara dan memperingatkan orang lain dengan baik-baik kenapa tidak?

Karena itulah hadist tsb dikategorikan kedalam bab iqrar (Pengakuan). Al-Imam Shon’ani (pengarang kitab subulu As-salam) berkata Mushonnif (Pengarang) kitab mengkategorikan hadits ini kedalam bab iqrar mengikuti Imam Rofe’i yang juga mengkategorikan hadits ini ke dalam bab iqrar. Pengaktekorian ini tidak lepas dari esensi hadits tersebut sebagaiman yang dijelaskan imam Shon’ani :

‎وَفِيهِ دَلَالَةٌ عَلَى اعْتِبَارِ إقْرَارِ الْإِنْسَانِ عَلَى نَفْسِهِ فِي جَمِيعِ الْأُمُورِ وَهُوَ أَمْرٌ عَامٌّ لِجَمِيعِ الْأَحْكَامِ

Esensi hadits tsb menunjukan untuk Iqrar (pengakuan keburukan) manusia terhadap dirinya sendiri dalam segala perkara umum (Subulu As-Salam syarhu bulughul marrom) bukan menjadi legalitas menjudge orang lain.

نحن نحكم بالظوهر والله يحكم بالسرائر

Kita menghukumi (menjudge) dengan dohirnya saja sedangkan Allah menhukumi (menjudge) dengan rahasianya (apa yg luput dari pandangan jasadiyah)

Lalu apa yg di banggakan dari sudut pandang kita?
Belajarlah dari kehidupan, karena kebenaran yang kita yakini bisa jadi hanya ilusi semata dikemudian hari.

Ais Banten

Ratusan Putra, Putri Kiai dan Santri Banten, Telah dibai’at Sebagai Kader Penggerak Nahdlatul Ulama Prov. Banten

Previous article

Hasil RKMI, Pimpinan TQN Ponpes Al-Mubarok Banten Menjadi Raja Sumedang Penerus Padjadjaran

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

Netralisir Kesedihan Dengan Doa

Dari sekian perjalanan hidup yang tidak selalu lurus, lika-liku dari terjal medan kehidupan yang harus dijumpai tak jarang membuat kita menitikan air mata, ...

Apakah Islam Hanya Simbol?

Kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illa allah” adalah kalimat suci yang tidak akan dipungkiri oleh siapapun dari kalangan muslimin. Bahkan terdapat berapa banyak hadist ...