Artikel

Kalimat Sang Kyai Menjadi Instrument Perekat & Persatuan Bangsa

0

Kata- kata ini mungkin sudah tidak asing di telinga kita saat ini.Sebuah kalimat yang di zamannya mampu mendobrak pergerakan kyai dan santri menghantarkan indonesia merdeka dari penjajahan.

Hukum Islam dalam konteks keindonesian yang beragam & kaya kebudayaan.Oleh Para kyai dan ulama melakukan sebuah ijtihad dalam menyikapi sebuah permasalahan lebih menitik beratkan pada pemahaman apa yang ada disekitar teks syar’i.

Tidak menitik beratkan serta bersifat stagnan dari pemahaman apa yang ada di dalam teks syar’i saja. Para Kyai Nusantara senantiasa memahami teks-teks keilmuan islam (al-qur’an & hadist) lengkap dengan setting sosial,politik dan budaya yang melingkupinya.Sehingga tidak terjebak kedalam sebuah pemahaman-pemahaman yang kaku dan harga mati.

Melalui pemahaman inilah,islam bisa dipahami dan disebarluaskan di Nusantara tanpa pertumpahan darah,gesekan sosial dan agama yang selalu menebarkan rahmatan llilalamin.

Catatan sejarah, membuktikan bahwa hukum islam yang syarat dengan nuansa pemikiran,serta mampu menyesuaikan diri dengan zaman merupakan ciri hukum islam yang tidak memberatkan,eksis & fleksibel.

Para kyai kita dahulu melalui jargonya: “Nasionalisme merupakan sebagian esensi kesempurnaan iman”. Mampu menjadikan sebuah perekat yang menyatukan ummat islam dalam membela bangsa dan negara. Ungkapan Kyai ini sangat paham dengan kontekstualisasi sebuah inti dan tujuan Syariat Islam ditegakkan. Sebagaimana Imam syatibi di dalam kitab Al-Muawafaqat mengatakan :

إنما وضع الشارع لمصالح العباد في العاجل والآجل

Sesungguhnya syari’ (pembuat syariat) dalam mensyariatkan hukumnya untuk mewujudkan kemashlahatan hambanya baik didunia maupun di akhirat secara bersamaan.”

Prinsip Maqashid Syariah digunakan selanjutnya oleh para kyai dan ulama dahulu dalam konteks keindonesiaan. Selayaknya, tidak hanya dipertimbangkan kepada ummat islam saja,namun juga kepada non muslim.

Sehingga, warga negara indonesia apapun agama,suku dan strata sosialnya,bisa terjamin agamanya (hifdz ad-diin), jiwa (hifdz an-nafs),hartanya (hifdz al-mal), aspirasinya (hifdz aql), dan kehormatannya (hifdz an- nasl). Eksistensi Negara indonesia yang beragam suku,budaya dan agama tentu harus menjadi pertimbangan matang oleh para kyai kita terdahulu dalam memberikan sebuah dauhnya.

Karena, jangan sampai menjadi sebuah justifikasi terjadinya tindakan-tindakan yang dapat menggoncang stabilitas sosial,kerukunan antar ummat beragama,antara masyarakat dan lain sebagainya. Tentu, menjaga stabilitas nasional (hifdz al-wathan) telah dilegitimasi al-qur’an dalam surat Al-Qashash ayat 85 :

إن الذي فرض عليك القرآن لرادك إلى معاد

Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-qur’an benar-benar dan mengembalikan kamu ke tempat kembali”.

Syekh Ismail Haqqi Al-hanafi Al-Khawalti dalam tafsirnya Ruhul Bayan mengatakan :

Didalam tafsirnya ayat ( QS.Al-Qashash : 85) terdapat suatu petunjuk isyarat bahwa : “Cinta tanah air sebagian dari iman”.Rasulullah SAW (dalam perjalanan hijrahnya menuju Madinah) banyak sekali menyebut kata : “tanah air,tanah air”, kemudian Allah SWT mewujudkan permohonanya (dengan kembali ke Mekkah)….sahabat Umar RA berkata ; “Jika bukan karena cinta tanah air,niscaya akan rusak negeri yang jelek (gersang),maka sebab cinta tanah airlah,dibangun negeri-negeri“.

Pada titik ini, peran para kyai dan ulama menjadi sangat penting dalam pembentukan kultur dan karakter keislaman yang khas,dalam pengertian toleran,moderat dan ramah.

Melalui dawuh “hubbul wathon minal iman” lah sebuah pondasi utama ummat islam di nusantara menyepakati bahwa indonesia adalah negara kesatuan atas dasar kesepakatan hidup bersuku-suku, berbagai agama, berbangsa dan bernegara dalam rumah besar dengan nama “Indonesia”.

Oleh: Muh. Thohir Ulfi Zaini, Lc (Ais Banten)

0

Ais Banten

BUYA MUHTADI BIN BUYA DIMYATI CIDAHU PANDEGELANG BANTEN, KEILMUANNYA DIMATA ULAMA DUNIA

Previous article

Islam dan Politik Indonesia

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

SPIRIT SAHABAT DAYAT DKK

Spirit Bravo sahabat Dayat Dkk melakukan Aksi Gerak Jalan Sumsel-Istana Negara Pelamunan- Kabupaten Serang 12/07/2019.Acara Silaturahmi Sahabat PC.Kab.Serang & PC.Kota Cilegon dalam rangka ...

Netralisir Kesedihan Dengan Doa

Dari sekian perjalanan hidup yang tidak selalu lurus, lika-liku dari terjal medan kehidupan yang harus dijumpai tak jarang membuat kita menitikan air mata, ...

Apakah Islam Hanya Simbol?

Kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illa allah” adalah kalimat suci yang tidak akan dipungkiri oleh siapapun dari kalangan muslimin. Bahkan terdapat berapa banyak hadist ...