Artikel

Kehangatan NU Di Tengah Keberagaman Dan Perbedaan

0

oleh: Defah (Ais Banten)

Indonesia adalah negara yang penuh keberagaman,  negara yang dikelilingi dengan begitu banyak suku, ras, agama, bahasa dan berbagai macam variant budaya yang ada di dalamnya. Dengan sekian banyak perbedaan-perbedaan dan keberagaman itu harusnya warga negara Indonesia terbiasa dalam hal menyikapi perbedaan. Karena semenjak kita lahir, perbedaan-perbedaan itu telah lebih dulu ada dibanding kita yang lahir belakangan.

Sikap bijak harusnya bisa ditunjukan dengan gaya hidup kita selaku warga negara yang harusnya sudah faham betul tentang segala perbedaan-perbedaan itu. Namun, pada faktanya kebanyakan warga negara Indonesia pada saat ini mengalami gagal faham dalam menyikapinya. Ketika kita lahir sebagai orang dari tanah sunda atau jawa misalnya,  tidak sedikit orang yang dengan berani-beraninya menancapkan tombak kebencian dengan perkataan-perkataan kasar dan mematikan mental pada mereka yang lahir dari suku-suku lain, seperti suku papua, bugis, minang, dan sebagainya, hanya karena perbedaan warna kulit, dialek atau postur tubuh. Ajang bully dan pengkastaan yang melewati hak-hak Tuhan seolah menjadi hal yang biasa.

Tidak selesai pada urusan perbedaan budaya dan etnis,  perbedaan agama di Indonesiapun sangat sering menjadi penyebab timbulnya perpecahan dan perselisihan diantara sesama warga Indonesia. Rasa toleransi yang minim menjadi alasan pecahnya sebuah kerukunan dalam beragama dan bernegara.

Perbedaan pendapat, perbedaan partai politik dan perbedaan organisasi pada waktu ini sangat menjadi perhatian karena pada zaman ini sumber informasi bukan menjadi suatu hal yang sulit dicari, makanya kenapa banyak peristiwa serta kejadian yang dengan mudahnya bisa kita lihat, baca dan kita dengar secara kilat dengan segala kecanggihan teknologi audio visual yang dikemas dalam sebuah fitur social media atau elektronik. Pembahasan mengenai agama yang katanya diaduk-aduk oleh nafas politik dan benturan organisasi Islam yang ada di Indonesia kini menjadi topik yang paling sering dibicarakan, atau generasi milenial kekinian menyebutnya dengan istilah viral (sedang banyak diperbincangkan orang).

Jika politik dan isu politik menjadi viral memang itu karena Indonesia pada saat ini berada pada tahun politik; karena sebentar lagi pesta demokrasi akan dilaksanakan di Indonesia, namun jika bicara organisasi Islam yang begitu mencintai NKRI seperti Nahdlatul Ulama (NU) dianggap pembangkang dan radikal mungkin ini juga yang disebut gagal faham. Tujuan NU adalah untuk menebarkan islam yang toleran, menghadang gerakan radikalisme, extremisme dan terorisme ditanah air. Gerakan extremis ini diyakini berawal dari kesalahan memahami ajaran islam, NU akhirnya mencenangkan gerakan anti-extremis global dan memiliki prinsip serta keyakinan bahwa “hubbul wathon minal iman” (cinta tanah air sebagian dari iman).

NU adalah organisasi islam terbesar di Indonesia, bahkan bukan hanya di Indonesia tapi didunia. Nahdlatul Ulama (NU) didirikan pada tahun 1926 jauh sebelum Indonesia merdeka oleh Hadratussyekh Hasim Asy’ari. NU mengusung faham Ahlussunah waljama’ah. Dalam bidang fiqih NU mengikuti imam 4, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali. Sedang dalam bidang aqidahnya NU mengikuti Abul Hasan Al Asy’ari dan Abu Hasan Al Maturidy. Pada bidang tasawwuf mengikuti Imam Al-Gazali dan sanad keilmuan NU sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

NU adalah organisasi yang bisa menerima keberagaman dan perbedaan. Misalnya dalam menjawab perbedaan pendapat dikalangan Nahdiyyin, NU membentuk forum Lajnah Bahtsul Masa’il yang pembahasannya mulai dari fiqih sehari-sehari sampai polemik politik bersekala Nasional. Kiyai Bisri dan Kiyai Wahab adalah contoh dua tokoh kiyai NU yang sering sekali berdiskusi dan berdebat perihal agama bahkan keduanya sering beriskusi sampai gebrak-gebrakan meja namun ketika adzan berkumandang keduanya tetap berjalan bersama untuk menuju masjid. Dalam dunia pesantren NU berkedudukan sebagai junjungan. Dawuh kiyai adalah segalanya dan itulah yang membedakan organisasi islam terbesar di Indonesia ini dengan organisasi keagamaan lain. Keadaan itu menjadikan satu individu Nahdiyyin bisa mengikuti kiyai A dan kiyai B sekaligus, sekalipun keduanya punya sikap yang bersebrangan, tidak pernah ada cerita santri kiyai Bisri bersitegang dengan santri kiyai Wahab karena junjungan masing-masing berdebat hebat. Karena terbiasa menyelami perbedaan pikiran dan sikap dalam lingkup internal itulah warga NU mudah menerima keberagaman.

NU adalah organisasi yang bertoleransi tinggi dan memeluk perbedaan namun akan tetap tegas terhadap kelompok-kelompok yang selalu menggunakan teks-teks agama sebagai legitimasi atau kekerasan ataupun pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap kafir dan akan menangkis ide-ide radikal.

Kyaiku Sumber Inspirasiku

Previous article

Berkata-Katalah Dengan Baik

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

SPIRIT SAHABAT DAYAT DKK

Spirit Bravo sahabat Dayat Dkk melakukan Aksi Gerak Jalan Sumsel-Istana Negara Pelamunan- Kabupaten Serang 12/07/2019.Acara Silaturahmi Sahabat PC.Kab.Serang & PC.Kota Cilegon dalam rangka ...

Netralisir Kesedihan Dengan Doa

Dari sekian perjalanan hidup yang tidak selalu lurus, lika-liku dari terjal medan kehidupan yang harus dijumpai tak jarang membuat kita menitikan air mata, ...

Apakah Islam Hanya Simbol?

Kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illa allah” adalah kalimat suci yang tidak akan dipungkiri oleh siapapun dari kalangan muslimin. Bahkan terdapat berapa banyak hadist ...