ArtikelSuara

Netralisir Kesedihan Dengan Doa

0

Dari sekian perjalanan hidup yang tidak selalu lurus, lika-liku dari terjal medan kehidupan yang harus dijumpai tak jarang membuat kita menitikan air mata, bersedih dan membawa kita pada titik rasa bahwa kita adalah selemah-lemahnya insan.

Ketidak sinkronan harapan dan kenyataan kadang membuat kita pilu-sembilu. kemiskinan dan kelaparan mendesiskan ucap enyuh dari bibir kering kesusahan karena tak makan dan tak minum. Rantai masalah keluarga, percintaan dan segala macam ujian dan cobaan Allah Ta’ala acap kali membuat kita menangis. Menangis memang bukan tanda orang lemah namun tangisan adalah salah satu ekspresi dari isi hati yang bersifat manusiawi yang kadang melegakan namun tak mengusaikan problematika sebab kesedihan.

Namun jika tangisan ini ekspresi dari ratapan dan kesedihan yang berkepanjangan alangkah disayangkannya, karena jika kita bersedih atas kesusahan dan masalah yang besar, yakinlah bahwa kita memiliki Allah yang maha besar.

Terlatihlah dengan maslalah, maka kita akan terlatih mencari solusi. Bukan berarti kita orang yang terlatih membuat masalah, tapi ketika kita kedatangan tamu agung yang disebut masalah dan ujian, maka kita akan lebih terbiasa dalam upaya pendalaman diri dan lingkungan yang akan membentuk karakter dan peningkatan kedewasaan.

Menyikapi kebersedihan yang memang wajarnya dirasakan setiap insan karena terhimpit masalah yang berat atau karena ditinggalkan dan beberapa faktor penyebab kesedihan lainnya, harusnya kita tahu bahwa ada tauladan yang dapat kita contoh ketika kita dilanda kesedihan yang mendalam dan bagaimana solusi yang dilakukan ketika hati gusar,takut, gelisah, galau dan merana.

Kita sebagai manusia tentunya tidak akan pernah bisa terhindar dari sergapan kesedihan dan kegelisahan, dengan segala variant rasa hati yang tak menyenangkan itu Rosulullah menasihatkan bahwa netralisasi dari perasaan-perasaan sedih itu adalah dengan berdoa. Do’a jualah yang menjadi penyambung atau terkoneksinya antara seorang hamba dengan Maha pemberi solusi Allah Azza Wazalla.

Nabi Muhammad adalah figur yang hidupnya tak lepas dari doa. Setiap kejadian sekecil dan sebesar apapun, selalu tersedia doanya. Banyak sekali formula doa. Ustadz Quraish Shihab pernah menyatakan, tatkala hendak mengerjakan sesuatu dimulai dengan basmallah dan mengakhiri pekerjaan dengan hamdalah itu sudah cukup dikatakan bahwa kita termasuk orang yang berdoa.

Ada delapan kondisi hati yang dapat menjadi komponen matinya kreativitas manusia. Delapan kondisi hati tersebut meliputi: gelisah-sedih, lemah-malas, penakut-pelit, hutang-paksaan seseorang(penindasan).

Jangan sampai segala jenis rasa yang demikian mematiakan segala kreativitas, mental dan membuat kita tenggelam dalam kesedihan. Jika Rosulullah saja Nabi Allah yang tak henti meminta perlindungan dan enggan melepas doa kepada Allah, apalagi kita seorang insan hina yang tidak memiliki daya dan upaya harusnya lebih giat dalam berdoa kepada Allah SWT.

Muhammad Rosulullah SAW, mewariskan doa kepada kita supaya terlindung dari perasaan sedih dan semacamnya. Anas Bin Malik yang lama menjadi pembantu Nabi SAW sering kali mendengar doa yang dirutinkan beliau.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالبُخْلِ، وَالجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Ya Allāh aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana dan kesedihan, begitu juga dari kelemahan dan kemalasan, kekikiran, sifat penakut, lilitan hutang dan penindasan (HR. Bukhori).

Sedih biasanya berkaitan dengan segala peristiwa yang telah berlalu. Takut senantiasa berurusan dengan semua hal yang belum terjadi.

Jangan jadikan diri kita manusia yang mudah terpuruk dan tenggelam dalam kesedihan. Karena setiap ketakutan, kegelisahan dan masalah selalu berjalan beriringan dengan solusi. Maka berdoalah dan netralkan perasaan duka dan pilu kita dengan sebuah pengaduan seorang hamba kepada Tuhannya yang terkemas dalam doa.

Penulis: Defah (@oase_santri)

Zakat Fitrah Dengan Uang dan Kepada Guru Ngaji

Previous article

Minggu Pagi di Pesantren Al Istiqlaliyah

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

Apakah Islam Hanya Simbol?

Kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illa allah” adalah kalimat suci yang tidak akan dipungkiri oleh siapapun dari kalangan muslimin. Bahkan terdapat berapa banyak hadist ...

Tentang Non-Muslim Bukan Kafir

Hasil Bahtsul Masâil Maudlū’iyah dalam Munas dan Konbes NU 2019 di Banjar Patroman, Jawa Barat, memicu polemik. Dari sekian isu penting, yang paling ...