ArtikelSuara

Sayyid dan Habib di Nusantara

1

Rosul SAW bukan hanya menyuruh kita mencintai dzuriyyah (keturunan)nya dan melarang menyakitinya. Tapi, beliau juga menyuruh kita mencintai dan melarang menyakiti orang tua kita, yatim piatu, fakir miskin, santri, ulama, umaro, sesama saudara muslim. Bahkan, kepada kucing sekalipun; karena mereka semua adalah golongan yang dicintai oleh beliau yang mulia.

Rasulullah SAW menyuruh kita menjaga lisan dan perbuatan kita dari menyakiti hati mereka semuanya. Seperti menghina, memfitnah, menghujat, mempermalukan mereka di hadapan umum, membuka aib mereka (ghibah), dan memvonis buruk dan keji kepada mereka tanpa bukti, saksi dan sidang alias fitnah.

Allah SWT menurunkan hukum Islam berlaku kepada semua orang Islam tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain sebagai bukti keadilan Islam yang Rohmatan lil ‘alamin.

Awal mulanya, panggilan sayyid (tuan/junjungan) diberikan kepada sayyidina Hasan ra. dan Husein ra. sebagai cucu baginda Nabi saw oleh sahabat nabi sebagai bentuk memuliakan mereka.

Dalam perkembangan zaman, sebutan gelar tersebut dibedakan menjadi dua. Yaitu:

(1) kepada keturunan Rasulullah saw dari garis sayyidina Hasan ra adalah “syarif”.

(2) kepada keturunan Rosulullah saw dari garis sayyidina Husen ra ialah “sayyid”.

Di zaman ulama muta’akhirin muncul istilah habib (yang dicintai oleh Allah swt) sebagai panggilan kehormatan yang diberikan kepada sayyid dan syarif yang memenuhi kriteria yaitu: “sayyid atau syarif diharuskan mempunyai ilmu, pemahaman kepada agama Islam yang sangat luas, usia yang mumpuni, waro, berahlakul karimah dan ketaqwana. Agar mampu menjadi uswah (suri tauladan) dalam perilaku bagi orang lain. Berlakunya kriteria ke-habib-an di atas bertujuan agar seorang sayyid/syarif diketahui pantas atau tidak dipanggil sebagai seorang habib”.

Sampai saat ini, belum ditemukan perintah Rasulullah SAW yang menghukumi wajib bagi umat Islam agar memanggil gelar sayyid, syarif dan habib kepada dzuriyyah Rasulullah saw kecuali dalam hadits beliau berkata: Panggilah seseorang (siapapun) dengan panggilan yang bagus.” [HR. Ahmad]

Di masa wali songo tercatat ada tiga kerajaan besar Islam di Jawqa Barat yang rajanya adalah dzuriyyat Rosul dari garis sayyidina Husein ra yaitu

(1) Sunan Gunung Jati (Syeh Syarif Hidayatulloh Cirebon bin Sayyid Abdulloh Umdatuddin. Syarif Hidayatullah bertemu dengan Nyai Kawung anten (putri dari Sang Surosowan), keduanya kemudian menikah dan dikaruniai dua orang anak yaitu Ratu Winaon (lahir pada 1477 m) dan Pangeran Maulana Hasanuddin. Pangeran Pasarean bin Syarif Hidayatullah juga menjalin hubungan keluarga dengan Demak, karena menikahi putri Raden Patah yang lain, yaitu Ratu Nyawa, yang sebelumnya adalah janda dari Pangeran Bratakelana bin Syarif Hidayatullah , anak Sunan Gunung Jati juga namun dari istri lainnya.

(2) Sultan Banten Maulana Hasanudin bin Sunan Gunung jati. Beliau menikah dengan Nyi Ratu Ayu Kirana (anak sultan Hadiwijaya atau lebih dikenal dengan Jaka Tingkir, Raja Pajang.

(3) Raja Sumedang Prabu Geusan Ulun (sayyid Maulana Ja’far) bin Sayyid Maulana Sholeh (pangeran Santri, cucu Syeh Nur Jati [guru Sunan Gunung Jati], Cirebon). Beliau menikah dengan Nyi Gedeng Waru (putri raja Sumedang Larang, keturunan Prabu Taji Malela).

Keturunan ketiga raja tersebut dari garis laki-laki yang nasabnya muttashil (bersambung) kepada Rosulullah saw adalah termasuk dzuriyyah Rosul saw bergelar sayyid namun; karena mereka adalah para bangsawan yang hidup di keraton kerajaannya. Maka, panggilan sayyid tiadak dimasyhurkan oleh mereka. Akan tetapi, sesuai dengan adat para bangsawan keraton. Maka, mereka mengganti gelar “sayyid” dengan nama gelar yang berlaku di kerajaan masing-masing dan sesuai dengan jabatannya di kerajaan-kerajaan tersebut.

Gelar para sayyid yang dimasturkan (disembunyikan), diganti dengan gelar yang berlaku dikerajaannya. Yaitu:

(1) Kerajaan Cirebon gelar sayyid menjadi “Pangeran, Elang” bagi laki-laki dan Ratu” bagi perempuan sampai sekarang.

(2) kesultanan Banten gelar sayyid menjadi “Pangeran, Ratubagus, Tubagus, Tb” bagi laki-laki dan “Ratu” bagi perempuan sampe sekarang.

(3) kerajaan Sumedang gelar sayyid diganti menjadi “Prabu, Pangeran, Rahadhian, Raden, Aom” bagi laki-laki dan Nyi Raden=NR, Raden, Jaoz” bagi perempuan sampai sekarang.

Mereka semua keturunan Hadramaut, Yaman, dari garis leluhur laki-laki. Namun, wajah mereka rata-rata sudah tidak terlihat seperti wajah orang Arab. Karena leluhur mereka saat menjadi raja/bangsawan, jarang menikah dengan seorang syarifah, tetapi menikah dengan perempuan lokal Jawa Barat dari keturunan eyang Sri Baduga Maha Raja Prabu Siliwangi dan bangsawan kerajaan Jawa Barat. Silsilah nasab kedzuriyyatan mereka semua sampai kini disimpan secara rapi di keraton dan rumah masing-masing secara sah dan resmi diakui oleh keluarga keraton masing-masing.

Begitu juga keturunan walisongo yang lain, yang tersebar di pelosok Nusantara. Mereka sesungguhnya pemilik awal dan pewaris negeri ini. Karena negeri ini awalnya adalah tanah kerajaan leluhur mereka. Akan tetapi, mereka tidak angkuh karena merasa diri seorang sayyid. Lantaran mereka semua mengerti ahlak-akhlak Islam, berpegang teguh dengan adat dan budaya ketimuran yang sopan, santun, tawadhu, serta menjaga lisan demi menjaga tanah negeri ini, yang sekarang menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di dalam darah mereka telah mengalir darah yang agamis dan nasionalis.

Tertanda:
Abah KH. Raden Muh. Yusuf Prianadi Al-Mubarok (ketua Majelis Luhur Rukun Wargi Sumedang (RWS) keraton Sumedang Larang, ketua Dewan Syuro PATRAH KBI (Persatuan Trah Hasanudin Kesultanan Banten Indonesia)

Penjelasan Taushiyah Syaikhunal Karim Ibnul Karim Abuya Muhtadi Bin Abuya Dimyathi Al-Bantany

Next article

You may also like

1 Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

SPIRIT SAHABAT DAYAT DKK

Spirit Bravo sahabat Dayat Dkk melakukan Aksi Gerak Jalan Sumsel-Istana Negara Pelamunan- Kabupaten Serang 12/07/2019.Acara Silaturahmi Sahabat PC.Kab.Serang & PC.Kota Cilegon dalam rangka ...

Netralisir Kesedihan Dengan Doa

Dari sekian perjalanan hidup yang tidak selalu lurus, lika-liku dari terjal medan kehidupan yang harus dijumpai tak jarang membuat kita menitikan air mata, ...

Apakah Islam Hanya Simbol?

Kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illa allah” adalah kalimat suci yang tidak akan dipungkiri oleh siapapun dari kalangan muslimin. Bahkan terdapat berapa banyak hadist ...