ArtikelEsai

Kyaiku Sumber Inspirasiku

0



oleh: Muh. Thohir Ulfi, Lc (Ais Banten, Wakil Sek. LBM PWNU BANTEN)



Malem ini, secangkir kopi menemaniku dalam kegelapan malem.Dengan asiknya kitab Adabul ‘alim Wal Muta’alim karya Mbah Hasyim Asy’ari kupegang paling tidak dengan memegangnya sabab barokah turun di malam ini.

Selembar kertas dari beberapa lembar dari kitab ini terbuka dengan tak sengaja, pandanganku tiba-tiba tertarik dengan satu kata demi kata dalam lembaran tersebut layaknya anak kecil tiba-tiba memandang dan meneliti segala hal yang ia lihat dengan wajah penasaran.

Terlintas diriku untuk menelaah kembali ungkapan Mbah Hasyim dalam kitab ini : “Bersungguh-sungguhlah dalam belajar dihadapan seseorang yang alim terhadap tekstualitas kitab dan sang guru yang alim ini merupakan seorang yang memahami betul dengan realitas suatu  keadaan zaman”.

Untuk perihal tentang belajar dengan seorang yang alim kitab, mungkin kata kata ini sering ku dengar.Namun,yang menarik adalah DENGAN SEORANG YANG  ALIM DENGAN REALITAS SUATU KEADAAN ZAMAN.

Pikirku, mulai menerawang apakah hanya bermodalkan paham tekstual kitab segala problem kehidupan bisa terpecahkan? Apakah orang yang sudah paham betul dengan literatur kitab sudah mampu untuk mengarahkan kebaikan untuk dirinya terlebih untuk khayalak umum?

Dan, hal yang membuat penasaran Mbah hasyim as’ari mengutip perkataan Imam Syafi’i :

من تفقه من بطون الكتب ضيّع الأحكام

Orang yang belajar ilmu fikih hanya dari isi-isi kitab  maka seseorang itu telah menyia-nyiakan hukum-hukum syari’at

Melihat ungkapan ini seolah-olah rancu dan terdengar aneh bahkan bisa jadi disaat ini bahwa Imam Syafi’i diklaim liberal atau apalah. Kok bisa orang yang jelas alim dengan literatur kitab-kitab syariat malah justru dirinya adalah orang yang menyia-mneyiakan hukum syariat.

Ternyata Mbah Hasyim malah dengan statement ini menyatakan bahwa seorang yang alim justru harus tahu dengan realita masyaraktnya.

Hal ini mengingatkan rekaman memory rekam jejak para kyai kita dulu : “Megajarkan dengan sesuai kadar akal masyarakatnya,membimbing mereka dengan hal yang paling mudah diterima, mengutamakan nilai-nilai agama dan semangat ruh agama islam itu sendiri.”

Dengan dawuhnya ; “Dusun,Pamali, lake adab be” menuntunku untuk patuh taat tanpa harus membantahnya seolah-olah kata kata ini lebih manjur ketimbang lebel dalil haram, halal,kafir dan sesat.

Dan sungguh kyaiku paham dengan hukum halal dan haram,sesat dan menyesatkan namun apalah artinya mengatakan ini semua secara langsung.

Bila nantinya dilanggar kemudian hari dan nanti lebel islam yang mulia ini,nantinya merupakan hal yang diremehkan dan bahkan akan mudah dipergunakan untuk seenaknya.

Teringat bagaimana Mbah Hasyim Asy’ari dengan lantang mengatakan bahwa ;

 “kemerdekaan indonesia merupakan jihad bagi seluruh ummat islam.Jika kita tidak merdeka bagaimana bisa syariat islam ditegakkan dimuka bumi ini”.

Beliau berpijak kepada pandangan politik Ahlussunnah wal jama’ah dari Syekh Nawawi al-Bantani yang mengatakan bahwa : “Dar al-Islam yang dijajah non-muslim, tetap menjadi negara Islam jika syariat Islam masih dijalankan. Namun, jika umat Islam dihalang-halangi dalam menjalankan syariat Islam, maka wajib hukumnya untuk berjihad dan status negara yang dijajah tersebut menjadi Dar al-Harb ”.

Teringat sesekali melihat sebuah bacaan bahwa Syekh Nawawi Al-bantanie menyerukan kepada para santri yang telah kembali ke indonesia untuk berjuang melawan penjajahan.

Teringat para kyai-kyai desaku bahwa : “Ritual tahlil sebenarnya merupakan cara menguatkan ukhuwah islam spirit membangun hidup bersama dan saling gotong- royong”

Teringat para orang sepuh dulu kala aku masih kecil ;

“Urip niku kudu disyukuri,akur sedulur, jujur adil lan makmur”

Kyaiku adalah kyai yang paham islam dengan paham dengan keadaan masyarakatnya : “Tulus,ikhlas, rendah hati,sabar,santun dan tawadlu”. Itulah ciri-ciri kyaiku. bukankah demikian kawan?

Memaknai Ajaran Gus Dur (Refleksi Peringatan Haul Gus Dur ke-9)

Previous article

Kehangatan NU Di Tengah Keberagaman Dan Perbedaan

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

Pergolakan NU & POLITIK IDENTITAS

Oleh : M. Hamdan Suhaemi Sejak NU kembali ke khittah 1926 hasil keputusan Muktamar Situbondo tahun 1984 silam, NU menjadi “ isu nasional ...

SPIRIT SAHABAT DAYAT DKK

Spirit Bravo sahabat Dayat Dkk melakukan Aksi Gerak Jalan Sumsel-Istana Negara Pelamunan- Kabupaten Serang 12/07/2019.Acara Silaturahmi Sahabat PC.Kab.Serang & PC.Kota Cilegon dalam rangka ...

Netralisir Kesedihan Dengan Doa

Dari sekian perjalanan hidup yang tidak selalu lurus, lika-liku dari terjal medan kehidupan yang harus dijumpai tak jarang membuat kita menitikan air mata, ...