EsaiSuara

Relativitas Tentang Sosok Pemimpin Ideal dan Kebebasan Memilih

0

Oleh: Defah (Ais Banten)

“Hidup itu pilihan” begitulah lumrahnya orang bicara. Jika memang hidup ini adalah sebuah pilihan maka pilihan itu menjadi hak setiap orang atau setiap jiwa. Karena hak memilih itu ada, maka kewajiban menghormati dan menghargai pilihan yang berbeda itu juga harus ada. Dari sekian kepala yang mengisi dunia maka dapat dijamin bahwa pilihan terhadap sesuatu hal setiap orang tidak akan sama.

Dengan ketidak samaan pilihan dari setiap orang ini kita akan dihadapkan pada ujian hati, jiwa dan akhlak tentang sejauh mana kita mampu menerima, menghargai, berbijak diri, dan menghormati pilihan seseorang yang berbeda dengan pilihan kita. Ibaratnya laki-laki dan perempuan yang memilih pasangan hidup, jika dia yang kita sukai atau cintai tidak memilih kita sebagai pasangan hidupnya maka sikap terbaiknya adalah menghargai dan menghormati pilihannya.

Bukan membenci, menghina dan mencaci seseorang yang telah memilih dan dipilih pada keputusan yang telah diambil dan dibuat. Karena ketika dia memtuskan pilihannya maka itu artinya sudah ada pengkajian dan berbagai macam faktor yang mendasari mengapa dia mengambil keputusan itu dan dianggap baik demi kelangsungan hidupnya untuk jangka waktu yang panjang.

Jika seandainya seorang wanita membutuhkan imam/pemimpin dalam keluarga yang idel menurut pandangannya. Pun ini sama halnya dengan kita selaku rakyat dan warga negara. Kita disini berdiri sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) yang membutuhkan sosok ideal dari seorang pemimpin bangsa ini. Sosok Ideal itu bersifat relatif jadi harusnya tidak heran jika setiap orang memiliki pendapat dan cara pandang yang berbeda mengenai sosok pemimpin yang ideal alias sifat ideal itu tergantung perspektif masing-masing orang. Ideal menurut dia belum tentu ideal menurut orang lain.

Kemerdekaan Indonesia yang sudah digapai ini juga menyangkut kemerdekaan memilih. Di Indonesia sendiri kemerdekaan memilih atau kebebasan memilih itu sangatlah dijunjung tinggi. Sebagaimana asas yang berlaku di indonesia yaitu asas Demokrasi yang artinya dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

Makna Demokrasi ini bukan hanya sebagai asas yang tidak ada gunanya namun ini adalah sebuah asas yang harus benar pada pelaksanaannya. Kebebasan memilih yang kita miliki harusnya bisa menjadi pengajaran pada diri dan penghormatan pada perbedaan pilihan. Jika seandainya masyarakat Indonesia masih berselisih soal pilihan, memfitnah dan menghujat karena perbedaan, maka rasanya tidak berlebihan jika peserta-peserta pemilihan dan penentu keputusan ini disebut bodoh dan belum cerdas.

Pemilih cerdas itu bukan hanya diukur dari seberapa tau dia dengan pilihannya, namun juga faham tentang cara yang benar dalam menentukan kriteria yang baik untuk dipilih dan seberapa sportive dia dalam memenangkan dirinya dan pilihannya, dalam artian tidak ada kecurangan.

Sebagai warga negara yang menjunjung tinggi Demokrasi juga penanaman pancasila “kemanusiaan yang adil dan beradab” serta sebagai umat beragama yang menjunjung tinggi akhlaq, aturan dan syari’at, sudah sepantasnyalah kita mampu meletakan diri dengan sebaik-baiknya kita sebagai Warga Negara Indonesia( WNI ) yang beradab dan meletakan diri dengan sebaik-baiknya kita sebagai mahluk ciptaan Allah yang mengedepankan akhlaq.

Hak memilih ini adalah kebebasan semua orang maka jangan sikapi setiap perbedaan pilihan ini dengan kebencian, hujatan, hinaan bahkan fitnah-fitnah mematikan yang juga mampu mematikan mental juga mematikan harapan setiap orang. Junjung tinggilah sportivitas, akhlak dan kecerdasan dalam bersaing merebut jumlah suara pemilih. Bukan dengan fitnah, hoax dan ujaran kebencian.

Ais Banten

Dugem Bersama AIS Banten dan PBB menggelar DZ di Malam Tahun Baru

Previous article

Pesan-Pesan Maulana Habib Lutfi Bin Ali Bin Hasyim Bin Yahya

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Esai

Kyaiku Sumber Inspirasiku

oleh: Muh. Thohir Ulfi, Lc (Ais Banten, Wakil Sek. LBM PWNU BANTEN) Malem ini, secangkir kopi menemaniku dalam kegelapan malem.Dengan asiknya kitab Adabul ...

Pancasila dan Benahi Kaderisasi

(Bagian Kedua dari empat Tulisan) Oleh Tubagus Soleh (Ketum Babad Banten Nasional)  penentuan dasar negara pada tahun 1955 nampaknya meninggalkan trauma politikyang sangat ...